Arsip Migo Berita

21 Mei 1998 Soeharto yang resmi lengser keprabon (turun tahta), tepat 18 tahun silam

20 Tahun Reformasi 21 Mei 1998 - 21 Mei 2018, Kronologi Jatuhnya Kekuasaan Smiling General

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pada 21 Mei 2018 tepat 20 tahun usia gerakan reformasi. Orde reformasi ditandai dengan pengunduran diri Presiden Soeharto dari jabatannya pada 21 Mei 1998.
Namun, sebelum pengunduran diri diumumkan Presiden Soeharto melalui pidatonya, ada sejumlah rangkaian peristiwa kait mengkait sehingga puncaknya pengunduran diri Soeharto.
Mahasiswa jadi aktor utama dalam gerakan reformasi pada 1998, termasuk menduduki gedung parlemen.


Ada ketidakpercayaan pada pemerintah, ada peristiwa berdarah akibat bentrok antara aparat dengan mahasiswa serta gelombang unjuk rasa yang kian membesar seluruh Indonesia adalah bagian yang tak terpisahkan hingga akhirnya terjadi suksesi kepemimpinan negara.

Berikut kronologi gerakan reformasi hingga jatuhnya kekuasan Presiden Soeharto seperti dikutip Banjarmasinpost.co.id dari kompas.com edisi 21 Mei 2016.
Dimulai dari terpilihnya Soeharto untuk ketujuh kalinya sebagai Presiden RI pada Maret 1998 membuat situasi dalam negeri semakin bergejolak.
Penolakan secara terang-terangan terpilihnya kembali penguasa Orde Baru Soeharto kian terasa.
Puncaknya pada bulan Mei 1998 terjadi penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti yang kemudian dijuluki sebagai "martir reformasi".
Kejadian ini menyulut protes rakyat dalam skala massif yang dimotori oleh mahasiswa.
Mereka mulai meninggalkan metode mimbar bebas di kampus-kampus dan mulai turun ke jalan. Hingga pada 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR/MPR, salah satu simbol perpanjangan tangan kuasa Soeharto ketika itu.
Meski mendapat protes hebat, Soeharto bergeming. Di tengah hiruk-pikuk itu dia masih berupaya menyusun kabinet barunya yakni Kabinet Reformasi, sebagai upaya untuk memperoleh kembali kepercayaan rakyat.
Namun, alih-alih mendapat dukungan, sebanyak 14 menteri Kabinet Pembangunan VII yang kembali masuk dalam Kabinet Reformasi tiba-tiba saja mengundurkan diri pada 20 Mei 1998 pukul 20.00.
Dikutip dari Presiden (daripada) Soeharto, sebuah surat dilayangkan para menteri itu kepada Yusril Ihza Mahendra selaku staf ahli Presiden. Isinya, mereka secara implisit menyarankan Soeharto mengambil langkah cepat untuk memenuhi keinginan masyarakat yang memintanya mundur.
Keempat belas menteri yang mengundurkan diri itu adalah Akbar Tandjung, AM Hendropriyono, Ginanjar Kartasasmita, Giri Suseno Hadihardjono, Haryanto Dhanutirt, Justika S. Baharsjah, Kuntoro Mangkusubroto, Rachmadi Bambang Sumadhijo, Rahadi Ramelan, Subiakto Tjakrawedaya, Sanyoto Sastrowardoyo, Sumahadi, Theo L. Sambuaga, dan Tanri Abeng.
Tak lama setelah surat itu sampai ke Soeharto, pria yang dijuluki "The Smiling General" ini pun menyatakan niatnya untuk mundur. Yusril kemudian yang menyusun naskah pidato pengunduran diri sang penguasa selama 32 tahun itu.
Pada saat naskah itu diserahkan, Soeharto sempat menuliskan tambahan pidatonya sendiri di lembar kosong.
Pada Kamis, 21 Mei 1998 sekitar pukul 09.00, Soeharto sudah mengenakan safari warna gelap dan berpeci. Dengan langkah tenang, dia meninggalkan Ruang Jepara yang ada di Istana Negara menuju Ruang Credentials.
Dia kemudian berdiri di depan mikrofon. Dengan nada suara yang datar, tanpa emosi. Presiden tua itu mengucapkan pidato terakhirnya yang sangat bersejarah.
Pidato hanya berlangsung selama 10 menit. Tak ada sesi tanya jawab yang dilakukan. Soeharto menandatangni naskah usai BJ Habibie diangkat sumpah oleh Mahkamah Agung. Dia lalu menyalami anak emasnya yang kini jadi penguasa itu.
Tanpa ada satu kata pun disampaikan kepada Habibie, Soeharto langsung meninggalkan ruang Credentials. Ditemani putrinya, Mbak Tutut, Soeharto menemui pimpinan DPR/MPR yang menunggu cemas di Ruang Jepara tanpa tahu apa yang terjadi selama 10 menit lalu itu.
Ketika sampai di ruangan itu, Soeharto menyampaikan dia sudah menyatakan pengunduran dirinya sekaligus serah-terima jabatan presiden kepada BJ Habibie. Sesudah menyampaikan itu, Soeharto keluar dari istana menuruni anak tangga di Istana Merdeka.
Dia menaiki mobil yang sudah menunggunya dan meluncur ke kediamannya di Jalan Cendana No. 8-10. Inilah akhir perjalanan panjang Soeharto yang resmi lengser keprabon (turun tahta), tepat 18 tahun silam. (kompas.com)
20 Tahun Reformasi 21 Mei 1998 - 21 Mei 2018, Kronologi Jatuhnya Kekuasaan Smiling General
KOMPAS.com
Presiden Soeharto pada saat mengumumkan pengunduran dirinya di Istana Merdeka, Jakarta, pada tanggal 21 Mei 1998. 
Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/05/21/20-tahun-reformasi-21-mei-1998-21-mei-2018-kronologi-jatuhnya-kekuasaan-smiling-general?page=all

Re-Post by http://migoberita.blogspot.co.id/ Senin/21052018/10.33Wita/Bjm

#LawanTeroris : Polisi selain Melayani Masyarakat, ternyata juga penuh Kebersamaan lewat Tadarusan

Penuh Kebersamaan, Personel Kepolisian Pengaron Gelar Tadarusan dengan Warga

BANJARMASINPOST.CO.ID, PENGARON - Di Bulan Suci Ramadan yang pernuh berkah ini, Personel Polsek Pengaron melaksanakan kegiatan tadarus di Langgar Ar Raudah.
Bersama warga Desa Pengaron Kecamatan Pengaron Kabupaten Banjar, dua personel Polsek Pengaron, Bripka Sus Santo dan Bripka M Rif'an, tadarusan, Minggu (21/5/2018) malam.
Penuh kebersamaan, dengan kegiatan tadarus yang dilakukan oleh personil Polsek Pengaron membuat warga senang.


Selain mengamankan masyarakat dalam melakukan ibadah juga tercipta rasa kebersamaan antara Polri dan warga masyarakat di wilayah Kecamatan Pengaron.
Penuh Kebersamaan, Personel Kepolisian Pengaron Gelar Tadarusan dengan Warga
Istimewa
Jajaran Polsek Pengaron taduras Alquran di Langgar Ar Raudah Pengaron

Re-Post by http://migoberita.blogspot.co.id/ Senin/21052018/10.20Wita/Bjm

SEKRETARIS Masjid Al Jihad Mudhasir mengatakan, panitia berbuka puasa Masjid Al Jihad menyediakan ribuan piring bubur ayam bagi kaum muslimin

Disediakan 1.500 Piring Bubur Ayam untuk Buka Puasa di Masjid Al Jihad

SETIAP harinya selama Ramadhan ini, disiapkan sekitar 1.500 piring bubur ayam bagi masyarakat yang berbuka puasa di Masjid Al Jihad, Jalan Cempaka, Banjarmasin.
SEKRETARIS Masjid Al Jihad Mudhasir mengatakan, panitia berbuka puasa Masjid Al Jihad menyediakan ribuan piring bubur ayam bagi muslim yang datang dari di berbagai penjuru Banjarmasin untuk berbuka puasa di masjid ini.


“Berbuka puasa dengan menu spesial ini, rutin digelar di masjid ini. Ada pula takjil, seperti kurma, kerupuk, kue lapis, dan buah-buahan,” katanya.
Menurutnya, buka puasa bersama yanh digelar Masjid Al Jihad untuk meningkatkan jalinan persaudaraan dan wujud solidaritas sebagai daerah mayoritas berpenduduk muslim. “Sebelum buka puasa, terlebih dahulu ada ceramah agama selama 10 menit, yang setiap harinya disampaikan bergantian oleh beberapa ustad,” pungkasnya.

Sumber Berita : http://jejakrekam.com/2018/05/21/disediakan-1-500-piring-bubur-ayam-untuk-buka-puasa-di-masjid-al-jihad/

Re-Post by http://migoberita.blogspot.co.id/ Senin/21052018/10.09Wita/Bjm 

Inilah 22 bakal calon Anggota DPD RI asal Kalimantan Selatan

Dua Tak Sampaikan Berkas, Bakal Calon DPD RI Kalsel Tergerus Tinggal 22 Orang

MASA perbaikan berkas syarat dukungan bagi bakal calon senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI diberikan KPUD Kalimantan Selatan, Minggu (20/5/2018) malam. Syarat minimal adanya 2.000 dukungan e-KTP dengan sebaran minimal 50 persen dari 13 kabupaten/kota yang ada di Kalsel, dicek ulang berdasar hasil verifikasi faktual di lapangan.
TERCATAT adalah 8 pelamar yang harus memperbaiki berkasnya akibat belum memenuhi syarat minimal 2.000 plus sebaran minimal 50 persen. Namun, hanya ada 6 orang yang memenuhi panggilan KPUD Kalsel untuk menyerahkan berkas perbaikan dukungan yakni Adhariani (mantan anggota DPD RI), Habib Akhmad Bahasyim, Abdus Sani, Habib Faturahman Bahasyim, Favi Aditya Ikhsan, serta Syamsul Daulah.
Sedangkan, dua pelamar lainnya, yakni Habib Ahmad Baharun dan Fransiscus Xaverius Rudy, ditunggu KPUD Kalsel hingga pukul 24.00 Wita atau 00.00, tak menyerahkan berkas perbaikannya.


“Berhubungan yang berdua orang itu tak menyerahkan berkas perbaikan, maka otomatis gugur. Jadi, total berkas yang telah diterima KPUD Kalsel hingga malam ini, hanya 22 orang bakal calon DPD RI yang sebelumnya 24 orang,” kata Ketua KPUD Kalsel Samahuddin Muharram kepada wartawan.
Dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini memastikan pada Senin (21/5/2018) akan dilanjutkan lagi tahapan verifikasi kembali atas berkas syarat dukungan hasil perbaikan dari para bakal calon senator utusan Kalsel ini.
“Proses verifikasi akan berlangsung dari 21 Mei hingga 24 Mei 2018. Nantinya, berkas ini akan kita sampaikan ke KPUD kabupaten dan kota untuk melakukan verifikasi kembali. Baru, setelah itu akan dilakukan verifikasi faktual pada 30 Mei hingga 19 Juni 2018,” papar Samahuddin.
Dengan demikian, hanya 22 bakal calon DPD RI yang akan melanjutkan tahapan berikutnya yakni  Syaifullah Tamliha, Gusti Farid Hasan Aman, Habib Hamid Abdullah, Habib Abdurahman Bahasyim, Samsani, Aunul Hadi Idham Chalid, Antung Fatmawati, Habib Hamzah Assegaf, Hasanuddin Murad, Soegeng Soesanto, Adhariani, M Ihsanudin, Suryani Shidiq, Agustin Nur Martina Putri, HM Sofwat Hadi, Hesly Junianto, Abdus Sani, Syamsul Daulah, Favi Adtya Ikhsan, Sayid Zakaria Bahasyim, Habib Akmad Bahasyim, serta Habib Fathurrahman Bahasyim.
Sumber Berita : http://jejakrekam.com/2018/05/21/dua-tak-sampaikan-berkas-bakal-calon-dpd-ri-kalsel-tergerus-tinggal-22-orang/

Re-Post by http://migoberita.blogspot.co.id/ Senin/21052018/10.01Wita/Bjm 

Marhaban Ya Ramadhan

#KamiRakyat&BangsaIndonesiaTidakTakutTERORIS : Membongkar jaringan Teroris berkedok Bela Islam dan Palestina ??!!

Bara dalam Sekam

Jakarta - Teror bom kembali terjadi di Indonesia. Kali ini bom bunuh diri menyasar rumah-rumah ibadah umat Kristiani di Surabaya (13/5) yang menewaskan setidaknya 13 orang, dan puluhan lainnya luka. Tragisnya, tindakan teror bom atas nama agama ini melibatkan satu keluarga yang terdiri dari ayah, istri, dan keempat putra-putrinya.
Investigasi awal aparat Kepolisian mengkonfirmasi bahwa sang ayah, Dita Fukrianto, adalah Ketua Jemaah Ansharud Daulah (JAD) yang bersama keluarganya baru kembali dari Suriah setelah bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Beberapa hari sebelumnya, napi aktivis JAD juga terlibat kerusuhan di Rutan Mako Brimob yang menewaskan 5 anggota Polisi.
Belum selesai kita menangis untuk Surabaya, bom kembali meledak 'sebelum waktunya' di Rusunawa Sidoarjo malam harinya.
Menyikapi tindakan-tindakan teror seperti ini, para elite negara dan tokoh agama sering menyampaikan ungkapan: "Terorisme sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran agama apa pun. Kalau mengatasnamakan agama, sebenarnya agama hanya digunakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu." Benarkah demikian?


Intoleran
Kita semua sepakat bahwa secara normatif terorisme bukanlah bagian dari ajaran agama apa pun. Titik! Tapi, secara empirik fakta di lapangan mengkonfirmasi bahwa aksi-aksi teror dan bom bunuh diri sering terkait dengan jenis pemahaman dan tafsir ajaran agama yang intoleran, radikal, dan ekstrem.
Alih-alih menyelesaikan masalah, menyangkal aksi teror sebagai tidak ada kaitannya sama sekali dengan (tafsir) agama ibarat menyimpan bara dalam sekam. Kita akan baru tahu benar-benar ada kejahatan yang merusak saat sang bara keluar dari lubangnya.
Selain akibat adanya pemahaman keliru atas teks-teks normatif keagamaan, aksi-aksi teror atas nama agama juga masih terus terjadi karena sebagian kita masih suka 'excuse' atas nama 'konspirasi politik', dan bersikap permisif atas perilaku intoleransi beragama.

Saat sejumlah lembaga riset merilis hasil survei dan penelitian beberapa waktu lalu tentang cukup tingginya intoleransi beragama dan radikalisme di kalangan muslim Indonesia, tidak sedikit komentar miring yang menganggap bahwa survei semacam itu bertujuan untuk memojokkan kelompok agama tertentu, dan berseberangan dengan fakta bahwa mayoritas muslim Indonesia bersikap moderat.
Survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) bersama UN Women dan Wahid Foundation (2017) misalnya, mengingatkan bahwa dari 1.500 responden sebanyak 57,1% di antaranya bersikap intoleran terhadap kelompok-kelompok lain yang tidak disukai, termasuk di dalamnya umat Yahudi, Kristen, Ateis, Cina, Wahabi, Katolik, dan Buddha.
Demikian juga survei nasional yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menemukan fakta mengejutkan. Bahwa, dari 2.181 responden, 37,71% di antaranya setuju bahwa jihad adalah berarti perang (qital) dan membunuh orang lain, 23,35% membenarkan tindakan bom bunuh diri sebagai salah satu bentuk jihad, serta 33,34% mengaku tidak masalah jika ada tindakan intoleran terhadap kelompok minoritas (PPIM, 2017).

Ini lebih dari cukup untuk menjelaskan bahwa kita memang punya pekerjaan rumah yang belum selesai terkait dengan sosialisasi pentingnya moderasi beragama yang kini giat dikumandangkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.
Moderasi beragama menjadi sangat penting karena misi utamanya adalah mencari jalan tengah (tawassuth) agar teks-teks agama, baik dalam tradisi Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan lainnya tetap menjadi rujukan seseorang dalam menjalani kehidupan sosial keagamaannya, tapi di sisi lain juga tetap menggunakan akal dan nalar dalam menafsirkan teks-teks keagamaan tersebut, sesuai dengan konteks zaman dan waktu.
Saya sendiri lebih ingin melihat survei-survei semacam itu sebagai peringatan dini atas adanya potensi intoleransi keagamaan dan radikalisme yang dapat merusak sendi-sendi kebinekaan, kesatuan, dan demokrasi kita. Tapi, kita juga harus adil melihat bahwa intoleransi dan radikalisme niscaya ada dalam semua tradisi agama, bukan hanya Islam, jadi survei yang dilakukan seyogianya juga mencakup umat beragama lain.

Sikap Kita
Tagar #PrayForSurabaya , #BersatuLawanTerorisme , dan #KamiTidakTakutTeroris di linimasa media sosial sudah cukup menggambarkan kemarahan dan keprihatinan kita semua dalam sepekan ini atas tindakan biadab, jahat, dan destruktif yang dilakukan oleh pelaku teror sejak di Rutan Mako Brimob, Gereja Surabaya, hingga Rusunawa Sidoarjo.
Tapi, marah dan prihatin saja jelas tidak cukup. Kita perlu memiliki sistem peringatan dini yang efektif untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya lagi teror-teror yang menjijikkan itu. Sistem peringatan dini ini dapat berupa perangkat keras seperti Undang-undang Antiterorisme, maupun perangkat lunak seperti program deradikalisasi yang lebih menyeluruh, terintegrasi antarlembaga, serta menyentuh sisi-sisi kemanusiaan mereka yang telanjur terdampak paham radikal.
Kita perlu bersama-sama mendesak lebih keras lagi agar DPR segera mengesahkan revisi Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang sudah lebih dari satu tahun tak kunjung selesai. Para anggota dewan yang terhormat tidak sepatutnya menjadikan revisi UU Antiterorisme ini sebagai alat tarik ukur kepentingan politik sesaat; juga tidak perlu berpikir bahwa undang-undang ini akan memojokkan kelompok agama tertentu, karena yang sedang kita perangi adalah kejahatan kemanusiaan, sama sekali bukan kejahatan keagamaan!
Dan, yang tidak kurang pentingnya, kita perlu menjadikan momentum ini untuk kembali merajut kebersamaan kita yang sempat terkoyak akibat perbedaan pilihan politik. Dalam salah satu cuitan di akun Twitter kemarin, saya berpesan: "Mari tidak nyinyir sejenak. Segenap rakyat Indonesia perlu bersatu padu bersama-sama melawan ideologi teroris, terlepas dari partainya apa, dan ideologi keagamaannya apa."
Jangan biarkan bara menjadi api!

Oman Fathurahman Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta
Bara dalam Sekam Ilustrasi: Instagram
Sumber Berita : https://news.detik.com/kolom/d-4019970/bara-dalam-sekam

Benarkah Rancangan Undang-Undang Terorisme TERHALANG oleh 3 partai ini, yaitu Partai GERINDRA, PKS dan Partai DEMOKRAT ? 

Fraksi DPR Pro Jokowi Lobi Gerindra-PKS-PD Sepakati RUU Terorisme

Jakarta - Menko Polhukam Wiranto mengadakan pertemuan dengan petinggi partai pendukung pemerintah dan menyebut sudah ada kata sepakat terkait pengesahan revisi UU Terorisme, tanpa harus ada Perppu. Sekjen PPP Arsul Sani yang hadir dalam pertemuan itu, menyebut parpol pendukung Jokowi ditugaskan melobi 3 partai sisa.
"Semua fraksi parpol koalisi pendukung pemerintahan (sepakat mempercepat revisi UU Terorisme). Kami fraksi-fraksi ini diminta melobi 3 fraksi lainnya (Gerindra, PKS, Partai Demokrat)," kata Arsul, Senin (14/5/2018).



Arsul tak menampik kalau permasalahan di pembahasan revisi UU Terorisme tinggal soal definisi terorisme. Dia menyebut ada beberapa beda pendapat soal definisi ini.
"Beberapa fraksi meminta agar motif-motif masuk dalam definisi di batang tubuh RUU. Namun, beberapa fraksi, seperti PPP, menawarkan alternatif lain agar motif politik, ideologi, dan ancaman keamanan negara cukup di penjelasan umum," ucap dia.


Sebelumnya, Wiranto mengungkap ada dua pasal krusial revisi UU Terorisme. Pasal itu termasuk soal definisi terorisme dan pelibatan TNI. Wiranto mengatakan pemerintah dan DPR sudah menemui kesepakatan.
"Ada dua yang krusial yang belum selesai, pertama definisi, sudah selesai. Kita anggap selesai ada kesepakatan. Kedua, pelibatan TNI bagaimana. Sudah selesai juga. Dengan demikian, maka tidak perlu ada lagi yang perlu kita perdebatkan," kata Wiranto.
Fraksi DPR Pro Jokowi Lobi Gerindra-PKS-PD Sepakati RUU Terorisme Foto: Arsul Sani. (Tsarina Maharani/detikcom).
Sumber Berita : https://news.detik.com/berita/d-4019976/fraksi-dpr-pro-jokowi-lobi-gerindra-pks-pd-sepakati-ruu-terorisme

Dina Sulaeman: Aksi Bela Palestina Atau Teroris?

JAKARTA – Pengamat Timur Tengah, Dina Sulaeman menjelaskan fakta dibalik aksi Bela Palestina (11/05) yang diselenggarakan oleh Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis, yang diketuai oleh Bachtiar Nasir. Seperti kita ketahui bersama bahwa Bachtiar Nasir dengan bendera IHR juga telah mengirimkan bantuan untuk teroris di Suriah, lantas apakah kita percaya kepada mereka, aksi bela Palestina atau bela teroris, berikut ulasannya:
Baca: Kapolri Ungkap Aliran Dana dari Bachtiar Nasir Diduga untuk Kelompok Pro ISIS di Turki

AKSI BELA PALESTINA, ATAU BELA TERORIS?
Saya sudah menulis ratusan, mungkin ribuan, artikel soal Suriah (saya menulis pertama kali tentang konflik Suriah Desember 2011, sekarang Mei 2018). Dan sering saya sampaikan: ada Israel di balik agenda penggulingan Assad.
Ini bukan teori konspirasi karena saya mengajukan bukti. Teori konspirasi itu kalau didasarkan khayalan, mencocok-cocokkan.
Antara lain buktinya adalah dokumen-dokumen CIA yang declassified (sudah boleh diakses publik) yang isinya rencana AS sejak tahun 1980-an untuk menggulingkan pemerintah Suriah demi Israel. Ada pula email Hillary Clinton yang dirilis Wikileaks (Maret 2016). Tertulis di dalam email itu, “Hubungan strategis antara Iran dan rezim Bashar Assad membahayakan keamanan Israe“. (baca buku Salju Di Aleppo)
Baca: Jaringan Terorisme Global Ancam Indonesia
Bukti lainnya adalah perilaku Israel selama konflik Suriah. Bila benar Israel adalah negara demokratis dan antiteroris (demikian kata fans Israel, terutama ZSM Indonesia), mengapa mereka tidak membombardir Golan saja, dimana banyak teroris ISIS dan Al Nusra, bercokol? Mengapa yang dilakukan Israel justru membombardir tentara Suriah yang hampir mengalahkan teroris, lalu merawat para teroris yang terluka di rumah sakit Israel, bahkan dibesuk oleh Netanyahu?. (Israel ‘giving secret aid to Syrian rebels’, report says)
Suriah adalah negara yang frontal melawan Israel. Selain mensuplai logistik ke Palesina, Suriah juga memberikan perlindungan kepada Hamas (milisi perjuangan kemerdekaan Palestina). Saat negara-negara Arab tak mau menerima Hamas (karena takut pada AS-Israel), Suriahlah yang menerima dan memberikan kesempatan kepada Hamas untuk berkantor di Damaskus.
Kemudian, sebagian elit Hamas berbalik melawan pemerintah Suriah dan mendukung “mujahidin”. Lihat di foto, pimpinan Hamas, Ismail Haniyeh mengibarkan bendera “mujahidin”/teroris Suriah (hijau-putih-hitam bintang 3).
“(Bendera yang sama yang juga pernah dikibarkan oleh lembaga-lembaga donasi yang aktif mengumpulkan dana untuk Suriah. Donasi untuk korban perang tentu baik. Tapi bila itu dilakukan dengan menggunakan narasi palsu, seperti “rezim Syiah membantai warga Sunni Suriah”, disertai foto-foto palsu (misalnya anak berdarah-darah korban tentara Israel di Gaza disebut sebagai korban pembantaian oleh Assad), serta video hoax buatan White Helmets, tentu amat wajar bila publik mempertanyakan: uang sumbangan rakyat Indonesia itu diberikan ke siapa?)”.
Baca: Fakta Bachtiar Nasir Bantu Teroris Suriah
Perubahan sikap Hamas ini dilatarbelakangi ideologi keagamaan mereka, yaitu Ikhwanul Muslimin. Mereka lebih memilih bergabung bersama jaringan IM transnasional (yang sedang punya misi menggulingkan Assad), daripada fokus pada perjuangan memerdekakan tanah airnya sendiri.
Tentu saja, akhir-akhir ini Hamas menunjukkan penyesalan dan menyatakan akan fokus pada urusan dalam negeri saja, lalu berupaya kembali mendekati Iran (yang sejak pengkhianatan Hamas telah menghentikan bantuan dana; padahal Hamas sangat butuh dana itu untuk mengelola pemerintahan di Gaza).
Karena yang angkat senjata di Suriah sebagian besarnya adalah anasir IM, plus Hizbut Tahrir, ISIS, dan Al Qaida (jadi, “mujahidin” alias teroris di Suriah itu banyak faksi, tapi ideologi dasarnya sama), dan semua ormas itu punya cabang di Indonesia, tak heran bila orang Indonesia berisik sekali soal Suriah (dengan narasi yang salah).
Baca: PKS Ikhwanul Muslimin Indonesia Berfaham Aliran Sesat Wahabi
Radikalisme dan terorisme yang marak akhir-akhir ini di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari maraknya narasi intoleran, hatespeech, dan fitnah yang disebarkan dalam upaya penggalangan dana dan rekrutmen petempur untuk “jihad” di Suriah.
ANEHNYA: kemarin, tiba-tiba saja, orang-orang yang sama, yang selama 7 tahun terakhir heboh sekali melakukan manipulasi informasi soal Suriah justru menggagas AKSI BELA PALESTINA.
Halooo?? Bela Palestina, tapi selama 7 tahun terakhir berperan penting dalam penghancuran pendukung utama Palestina, Suriah? Betapa kontradiktifnya!
Selain itu, bisa dilacak, sejak 2014, kelompok ini pula yang suka menggunakan isu SARA untuk politik dalam negeri. Mereka kemudian bikin film, berkeras menyatakan ini film soal cinta, padahal jelas konteks kelahiran karya ini adalah aksi bela ini-bela itu yang sejatinya demi pertarungan politik domestik.
Di sinilah pentingnya pemahaman geopolitik global, biar tak mudah dibodoh-bodohi oleh segelintir elit domestik yang membawa narasi sektarian demi agenda politik. Juga biar nyambung, saat saya mengaitkan Suriah dan kondisi politik dalam negeri, atau dengan film tertentu.
Pembelaan terhadap Palestina adalah amanah UUD kita. Tapi, mari bela Palestina dengan pemahaman yang utuh. Jangan sampai merasa sedang bela Palestina, eh, ternyata yang dibela malah teroris. (SFA)
Sumber: Fanpage Facebook Dina Sulaeman
Aksi 115
Sumber Berita : http://www.salafynews.com/dina-sulaeman-aksi-bela-palestina-atau-teroris.html

‘Teroris’ dan PKS Benci Jokowi, Ini Penjelasan Denny Siregar

JAKARTA – Pegiat media sosial Denny Siregar membuat sebuah tulisan yang ingin menjelaskan kepada masyarakat, kenapa pembenci Jokowi kebanyakan pendukung teroris dan kader PKS?, berikut ulasannya:
Kenapa kebanyakan pendukung teroris adalah pembenci Jokowi? Tidak perlu survey untuk ini. Perhatikan saja komen-komen yang muncul maupun status yang dibuat pada saat kerusuhan Mako Brimob berlangsung. Rata-rata mereka yang menganggap bahwa kerusuhan di Mako itu adalah settingan, selalu ada postingan #2019GantiPresiden di status mereka.
Baca: WOW! Inilah Ancaman Jokowi Kepada Teroris
Bahkan di grup-grup WA, teman-teman kecil saya dulu yang notabene adalah pembenci Jokowi sejak pilpres, turut menyuarakan bahwa kerusuhan Mako Brimob adalah bagian dari pengalihan isu karena lemahnya rupiah terhadap dollar AS. Mereka jangankan berempati kepada keluarga korban polisi, bahkan mereka membangun teori konspirasinya sendiri.
Sebenarnya mudah jawabannya, meski akan banyak yang menyangkalnya!
Kebencian kepada Jokowi dipicu karena tidak berkuasanya Prabowo. Prabowo bagi mereka adalah inang yang sempurna untuk berkembang biaknya virus ideologi yang sudah mereka tanam di negeri ini sejak lama. Ketika Jokowi memimpin, maka sesaklah dada mereka.
Jokowi menumpas terorisme di Indonesia mulai dari akar pertumbuhannya, yaitu pendanaan. Kelompok garis keras ini merasakan lesu darah ketika Jokowi menyetop dana bantuan sosial -bansos- dan dana hibah untuk mereka.
Dana bansos dan hibah yang selama ini dinikmati ormas-ormas dan LSM fiktif, dialihkan ke hal yang lebih berguna. Penghentian dana bansos ini dimulai sejak Jokowi menjadi Gubernur Jakarta dan diteruskan oleh Ahok. Ketika Jokowi menjadi Presiden, ormas-ormas yang mengajukan proposal pendanaan semakin kering dapurnya dan itu menghalangi mereka untuk menyebarkan ideologinya.
Baca: Denny Siregar: Ajal HTI Ditangan Jokowi
Kemudian Jokowi mengeluarkan Perppu pembubaran HTI. Maka semakin meradanglah mereka. Kemarahan kelompok garis keras ini bukan karena mereka punya ikatan kuat dengan HTI, tapi karena ketakutan bahwa mereka akan menjadi sasaran berikutnya. Hanya pada masa Jokowi inilah, agenda-agenda besar mereka untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri khilafah, berhenti.
Ditambah PKS yang sudah tidak bisa “bisnis” di kursi pemerintahan lagi. Lihat saja ketika PKS dulu ada di pemerintahan, semua jadi terlihat aman tentram dan sentosa, meski mereka sebenarnya menggerogoti dari dalam.
Itulah kenapa Jokowi dijadikan mereka sebagai “musuh bersama”. Pada masa SBY kelompok garis keras ini berkembang dengan cepat menguasai masjid dan majelis taklim, karena memang difasilitasi dan dibiarkan berkembang.
Jadi, buat saya, membela Jokowi bukan karena membela sosok yang nafsu berkuasa. Tetapi membela utuhnya negeri ini karena jika kelompok garis keras ini kukunya dibiarkan mencengkeram terlalu dalam, satu waktu habislah kita.
Baca: Netizen: Terorisme Bukan Jihad, #KamiBersamaPOLRI
Jika musuh kelompok garis keras ini adalah Jokowi, maka saya akan berpihak pada lawan mereka. Jadi sudah pasti saya akan dibenci juga oleh mereka.
Sesederhana itu sebenarnya. Seperti sederhananya secangkir kopi yang selalu ada tersedia di atas meja. (SFA)
Teroris bukan Islam

Mereka Pulang dari Suriah

LiputanIslam.com –Tak sampai sepekan, Indonesia diguncang dua aksi teror. Setelah melakukan aksi biadab penyanderaan dan pembunuhan secara keji di Rutan Salemba (Komplek Mako Brimob), para teroris kembali melakukan aksi yang tak kalah kejinya, yaitu meledakkan bom di tiga gereja yang terdapat di kota Surabaya. Sampai tulisan ini diturunkan, korban jiwa akibat ledakan tersebut diberitakan berjumlah empat belas orang, termasuk para pelakunya. Yang membuat miris, kali ini tindakan teror diduga melibatkan anak kecil berusia sepuluh tahun sebagai bomber, yang tentunya juga ikut tewas. Ini tentu adalah tindakan yang harus dikutuk sekeras-kerasnya.
Sangat disayangkan bahwa banyak sekali pihak seperti pihak keamanan (kepolisian) dan juga media-media independen (termasuk Liputan Islam) yang sudah mewanti-wanti betapa peristiwa-peristiwa ini sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu untuk meledak. Dengan memperhatikan segala macam preseden serta pola-pola gerakan kaum teroris, tak sulit untuk menduga bahwa suatu waktu mereka akan melakukan tindakan kejinya di Indonesia. Sejak lama kami sampaikan bahwa pengabaian terhadap krisis Suriah berarti membiarkan aksi terorisme merajalela di Bumi Nusantara ini.
Marilah kita melihat masalah ini dari fakta-fakta yang aksiomatis, yaitu bahwa aksi-aksi terorisme yang terjadi dalam kurun waktu enam tahun terakhir ini, , termasuk dua aksi teroris di Rutan Salemba dan juga di Surabaya, pastilah ada hubungannya dengan krisis Suriah.
Awalnya adalah adanya kepentingan kaum imperialis modern (Amerika, Zionis Israel, dan sekutu-sekutunya) untuk menaklukkan para penentang. Suriah, satu-satunya negara Arab yang konsisten menentang Zionis Israel, pun dijadikan target. Dibuatlah isu pertentangan madzhab Sunni-Syiah, lalu hoaks dan fitnah pun disebar. Setelah itu, para jihadis dari sekitar seratus negara dunia (termasuk Indonesia) difasilitasi untuk datang ke Suriah dalam rangka “berjihad’ menegakkan khilafah dan meruntuhkan “rezim thaghut” Bashar Assad yang mereka sebut menindas rakyat Sunni. Milyaran dolar dikucurkan untuk memberikan bantuan senjata dan logistik (termasuk bantuan pencitraan lewat media dan lembaga kemanusiaan).
Setelah bertempur selama lebih dari enam tahun, para jihadis makin terpojok dan bisa dikatakan sudah kalah. Mereka gagal mendirikan khilafah. Tapi, mereka berhasil menciptakan prahara kemanusiaan yang tak terkira di Bumi Syam. Sebagai konsekwensinya, mereka pulang ke negara masing-masing. Pihak kepolisian Indonesia memiliki data bahwa jumlah alumni jihadis Suriah yang sudah pulang ke Tanah Air mencapai angka 500 orang lebih; sebuah angka yang cukup mengerikan. Mereka pulang dengan pengalaman bertempur dan cara-cara menciptakan teror di tengah-tengah masyarakat. Mereka juga membawa pengalaman terkait dengan pola-pola rekruitmen yang sangat teruji. Maka, angka 500 ini bisa berkembang biak menjadi berkali-kali lipat. Saat ini, sangat mungkin jumlah teroris yang siap melakukan aksinya mencapai angka ribuan orang.
Apakah kita cukup mengantisipasi perkembangbiakan mereka itu? Sayangnya tidak. Kepentingan politik dan ekonomi segolongan elit negara ini membuat kita melakukan pembiaran terhadap bibit-bibit radikalisme dan intoleransi. Bahkan, sangat kuat ditengarai bahwa sebagian kelompok politik mengambil manfaat dari keberadaan kelompok-kelompok radikal itu untuk kepentingan politik mereka. Hate speech dan fitnah dibiarkan bertebaran dan memakan korban.
Lalu, ketika faham  dan ujaran radikalisme itu sudah mewujud dalam bentuk tindakan, ketika belum punya payung hukum yang memadai sehingga kepolisian masih dihadapkan kepada situasi serba salah dalam melakukan tindakan penanggulangan atas aksi-aksi potensial teman-teman mereka. Bayangkan, polisi punya data tentang mereka yang pulang dari pertempuran di Suriah. Akan tetapi, polisi tidak bisa dengan serta menangkap mereka, karena memang tidak ada payung hukum yang membenarkan penangkapan.
Para elit politik, khususnya DPR RI yang sudah lebih dari dua tahun menggodok revisi UU anti terorisme, memiliki tanggung jawab yang sangat signifikan dalam kasus ini. (os/edititorial/liputanislam)

Sumber Berita : http://liputanislam.com/dari-redaksi/editorial/mereka-pulang-dari-suriah/

Mantan Kepala BIN: Tangkap Pihak-pihak yang Bantu Teroris

JAKARTA – Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (KaBIN) Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono angkat bicara soal peristiwa meledaknya bom di 3 gereja di Surabaya, Jawa Timur. Dia mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan jangan panik dalam situasi seperti ini.
Dia mengibaratkan fenomena terorisme semacam ini seperti gunung Krakatu yang berpotensi meletus lagi. Meski demikian, dia percaya polisi dan TNI akan mampu mengatasinya.
Baca: Wiranto: Jangan Sampai Politik Dimanfaatkan Kelompok Radikal Kuasai Kekuasaan
“Kekuatan mereka yang seperti puncak Gunung Krakatau ini berpotensi meletus lagi, tapi Polri dan TNI akan mampu meredamnya,” kata Hendropriyono.
Program deradikalisasi dinilainya sudah jalan. Kini masyarakat perlu bersatu melawan terorisme, seperti warga Jawa Barat yang melawan DI/TII pada masa silam.
“Pada era 1960-an berhasil dengan gemilang menumpas DI/TII, karena bersatu padu mengepung mereka dengan melakukan pagar betis di daerah Majalaya,” ujar dia.
Baca: Ustad Abu Janda: HTI Dihajar Ansor Sel Teroris ISIS Bangkit
Hendropriyono mengungkapkan idenya agar di setiap Rukun Tetangga (RT) memiliki semacam tahanan untuk orang-orang yang dicurigai sebagai teroris. Nantinya, orang-orang yang mencurigakan itu bisa diserahkan ke aparat.
“Tahan setiap orang yang mencurigakan, untuk langsung serahkan kepada polisi atau kesatuan TNI yang terdekat. Sangat bermanfaat jika setiap RT punya kontainer tempat tahanan sementara sebelum alat negara datang,” kata dia.
Dia juga berpesan agar pihak-pihak yang membela teroris ditangkap saja. Menurutnya, masyarakat tak perlu terlalu pusing dengan urusan Hak Asasi Manusia (HAM) bila hendak menangkapi orang-orang mencurigakan. HAM yang harus dijunjung tinggi adalah HAM setiap orang Indonesia untuk hidup aman dan sejahtera.
Baca: Surat Terbuka Netizen Kepada Fans ISIS di Indonesia
“Tangkap para tokoh masyarakat yang bicara dan berbuat membela teroris. Ingat bahwa hukum yang tertinggi dalam situasi seperti ini adalah keselamatan rakyat. Singkirkan semua bualan tentang HAM teroris dalam kondisi rakyat di bawah bayang-bayang terorisme ini,” tuturnya. (SFA)
Sumber: Jurnal politik
Hendropriyono
Sumber Berita : http://www.salafynews.com/mantan-kepala-bin-tangkap-pihak-pihak-yang-bantu-teroris.html

Saiful Huda Semprot Fadli Zon Soal Terorisme ‘Politisi Dungu dan Malas’

JAKARTA – Cuitan Twitter Fadli Zon pada tanggal 12 Mei “Terorisme biasanya bkembang di negara yg lemah pemimpinnya, mudah diintervensi, byk kemiskinan n ketimpangan dan ketidakadilan yg nyata”.
Baca: Tsamara PSI ‘Hajar’ Cuitan Fadli Zon ‘Pemimpin Planga-Plongo’
Cuitan FZ mendapat balasan dari Saiful Huda EMS lewat akun Facebooknya, seorang penulis dan sekaligus advokat, SHE mengatakan bahwa kalau alasan terjadinya terorisme itu karena pemimpinnya lemah, maka di zaman Soekarno, Soeharto hingga SBY tidak akan ada terorisme karena mereka semua kuat. Namun nyatanya malah aksi terorisme itu banyak terjadi di zaman Soeharto dan SBY.
Baca: Eko Kuntadhi: PKS, Gerindra dan PBB Rebutan ‘Bangkai’ HTI
Kalau alasan terjadinya terorisme itu karena pemimpinnya lemah dan rakyatnya miskin, maka di Amerika, di Inggris, di Jerman, di Prancis dll. tidak akan pernah terjadi aksi terorisme karena di negara-negara itu selain pemimpin dan sistemnya sangat kuat, juga perekonomiannya sangat maju. Tetapi dalam kenyataannya ada banyak terjadi aksi terorisme di Amerika dan di negara-negara Eropa tersebut.
Ketahuilah, terorisme itu terjadi bukan karena pemimpinnya lemah, tapi karena politisi-politisinya yang di parlemen banyak diisi oleh orang-orang dungu, malas bekerja melaksanakan tugasnya, dan hanya gemar memprovokasi kemarahan orang melalui pernyataan-pernyataan politiknya.
Baca: Sumanto Al-Qurtuby: Ada Tangan Amerika dalam Gaduh Politik Indonesia
Contoh politisi dungu dan malas seperti itu adalah Si Zon yang mukanya mirip bos kaum gay dan sejenisnya. Dan selama orang-orang seperti Si Zon ini tidak dimasukin ke tong sampah dan dikunci selama-lamanya, maka terorisme akan terus menjadi ancaman nyata. (SFA)
Fadli Zon Vs Saiful Huda

Kapolri Desak DPR Segera Sahkan UU Anti Terorisme

SURABAYA – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Tito Karnavian mendesak DPR untuk segera menyelesaikan revisi UU Anti Terorisme. Jika masih belum tuntas, Tito meminta Presiden Joko Widodo untuk segera menerbitkan Perppu Anti Terorisme.
Baca: Ari Wibowo: Ayo Dukung Jokowi Tertibkan Perpu Anti Terorisme
“UU ini harus segera direvisi. Kalau terlalu lama, kita mohon Presiden untuk membuat Perppu,” ujar Tito usai mendampingi Presiden Jokowi di RS Bhayangkara, Surabaya, Minggu (13/5).
Tito menyebut UU Anti Terorisme yang ada saat ini membatasi aparat dalam pencegahan maupun penindakan teroris.
“Kita tahu sel-sel mereka tapi kita tidak bisa menindak. Kita menindak kalau mereka melakukan aksi atau sudah jelas ada barang buktinya. Kita ingin lebih dari itu,” ujar Tito.
Baca: Anggota Komisi 1 DPR Sebut Muhammad Syafii Gerindra Tak Pantas Pimpin Pansus RUU Terorisme
Kapolri berharap dalam revisi UU Anti Terorisme yang baru, terdapat pasal yang bisa menetapkan JAD-JAT sebagai organisasi teroris. Sehingga siapapun yang bergabung dengan organisasi ini bisa dipidana.
Baca: (Fikih Anti Terorisme) Al Quran dan terorisme
“Sebab korban terus berjatuhan. Sementara yang kembali dari Suriah 500 orang dan kita enggak bisa buat apa-apa. Kalau kita tidak melakukan apa-apa hanya 7 hari menahan lalu lepas,” katanya. (SFA)
Sumber: Kumparan
Kapolri
Sumber Berita : http://www.salafynews.com/kapolri-desak-dpr-segera-sahkan-uu-anti-terorisme.html

Moeldoko: Pemerintah Akan Perketat WNI yang Pulang dari Suriah

JAKARTA – Pasca ledakan beruntun di Jawa Timur, pemerintah akan memperketat warga negara Indonesia (WNI) yang telah pulang dari Suriah. Ditakutkan mereka termakan oleh doktrin terorisme yang kemudian melakukan teror di Indonesia. Terlebih satu keluarga yang melakukan pengeboman di tiga gereja Surabaya disebut juga pernah berangkat ke Suriah.
Baca: Mengutuk Para Radikalis Bukanlah Mengutuk Islam
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan, saat meninjau tempat kejadian dan mendatangi Polda Jawa Timur, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah melakukan rapat terbatas dengan sejumlah pimpinan Kepolisian, TNI, dan Menteri. Salah satu isi rapat tersebut yaitu agar semua lembaga termasuk imigrasi dan unsur lain bisa lebih waspada terhadap WNI yang telah pulang dari sejumlah negara rawan konflik termasuk Suriah.
Melalui data yang ada diharap aparat keamanan bisa lebih waspada dan memantau kegiatan mereka karena ditakutkakan terjerumus dengan doktrin terorisme.
“Misalnya begitu pulang (dari Suriah) nama-nama yang sudah terdeteksi itu segera diinformasikan kepada seluruh aparat bahkan kepada masyarakat sehingga semuanya menjadi lebih waspada, seperti itu,” ujar Moeldoko, Senin (14/5).
Baca: Wakil Kanselir Jerman; Wahabisme Sumber Ideologi ISIS dan Terorisme di Dunia
Moeldoko tidak ingin pemerintah dianggap kecolongan atas kejadian pengeboman di sejumlah daerah terutama di Surabaya. Sebab aparat keamanan sudah melakukan upaya pencegahan sesuai dengan prosedur.
Namun memang pemikiran para oknum teror ini pun berkembang sehingga modus yang dijalankan agak sulit terdeteksi. Sehingga seolah-olah aparat tidak melakukan langkah antisipasi, padahal hal tersebut sudah dijalankan.
Baca: Terduga Teroris Malang Miliki Daftar Nama Ustad Wahabi Sebagai “Mujahid” di indonesia
Perubahan modus bisa dilihat dari beberapa aksi yang dilakukan di mana para oknum kejahatan ini mendatangi suatu tempat secara terbuka dan langsung meledakan diri. Hal ini yang membuat aparat keamanan sedikit kerepotan karena bom bunuh diri lebih sulit ditangani. Salah satunya yang baru terjadi di Kantor Polres Surabaya di mana dua kendaraan bermotor tiba-tiba merangsak masuk dan ketika dicegat oleh penjaga langsung meledakan diri. (ARN)
Staf Presiden Kepala KSP

Jokowi: Aksi Terorisme adalah Tindakan Pengecut!

SURABAYA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengutuk keras aksi terorisme yang berturut-turut terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Ia menyebut bahwa aksi tersebut adalah tindakan pengecut.
“Ini adalah tindakan pengecut!,” tegas Jokowi kepada wartawan di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (14/5).
“Tindakan yang tidak bermartabat, tindakan yang biadab,” tegasnya.
Ia menegaskan negara akan melawan aksi terorisme dan akan dibasmi hingga ke akar-akarnya.
“Kita akan lawan terorisme dan kita akan basmi sampai keakar-akarnya. Saya sampaikan kepada polisi, saya perintahkan Kapolri untuk tidak ada kompromi dalam melakukan tindakan-tindakan di lapangan untuk membereskan aksi terorisme ini,” tegasnya. [ARN]

Tamparan Keras Golkar pada Fadli Zon: Politisasi Pengeboman Juga Kejahatan

JAKARTA – Wakil Ketua DPR Fadli Zon lewat cuitannya mengaitkan aksi terorisme di gereja Surabaya, Jawa Timur sebagai bukti kelemahan kepemimpinan. Golkar mengingatkan mempolitisasi peristiwa tersebut sama halnya dengan tindak kejahatan.
Baca: Aneh! Fadli Zon Sayangkan Putusan PTUN yang Sahkan Pemburan HTI
“Di saat keluarga korban sedang berduka, mempolitisasi pengeboman juga sebuah kejahatan,” kata Wasekjen Golkar Sarmuji, Minggu (13/5/2018).
“Sebaiknya tidak ada satu pihak pun yang mempolitisir aksi terorisme. Kita harus mengedepankan empati kepada korban,” imbuhnya.
Sarmuji menjelaskan insiden bom bunuh di gereja di Surabaya itu ialah bukti paham radikal masih ada di Indonesia. Dia mengajak seluruh elemen bangsa berperan aktif menangkal terorisme.
“Teror Bom surabaya membuka mata kita bahwa paham radikal masih banyak hidup di tengah masyarakat kita yang cinta damai. Karena itu kita yang berakal sehat dan ingin hidup damai harus terus melawan paham yang menyesatkan ini,” sebut anggota DPR yang duduk di Komisi XI itu.
Baca: MEMANAS, Surat Terbuka Mak Lambe Turah kepada Fadli Zon
“Setiap agama tidak mengajarkan kekerasan dan karena itu ajaran agama yang cinta damai harus terus disebarluaskan. Kita harus nyatakan bahwa tidak ada tempat sejengkal pun di bumi Indonesia yang boleh dihuni oleh paham yang menjadikan teror sebagai alat perjuangan,” tambah Sarmuji.
Kontroversi ini bermula dari tweet berseri Fadli soal teror bom di Surabaya lewat akun pribadinya @fadlizon pada Minggu (13/5) pagi. Dari tujuh tweet yang ia unggah, salah satu yang paling ramai ialah ketika Fadli mengaitkan aksi terorisme dengan kelemahan kepemimpinan.
Baca: Siapakah Sebenarnya Penjual Agama?
“Terorisme biasanya bkembang di negara yg lemah pemimpinnya, mudah diintervensi, byk kemiskinan n ketimpangan dan ketidakadilan yg nyata,” cuit Fadli. Banyak netizen yang memprotes tweet Fadli itu. Tercatat, setidaknya ada 7.700 cuitan yang membalas tweet tersebut. (ARN)

Delapan Fatwa MUI tentang Politisasi Agama

islamindonesia.id – Delapan Fatwa MUI tentang Politisasi Agama
Komisi fatwa MUI menggelar Ijtima Ulama Se-Indonesia VI di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Di antara seluruh hasil pertemuan tersebut, salah satunya adalah menghasilkan delapan fatwa tentang politisasi agama di Indonesia. Dr. HM. Asrorun Niam Sholeh, MA dalam konferensi pers pada hari Jumat (11/5) selaku Ketua Pimpinan Sidang Pleno menyampaikan delapan fatwa tersebut:
Pertama, Islam sebagai ajaran yang bersumber dari wahyu merupakan ajaran yang komperehensif (kaffah), memiliki tuntunan kebajikan yang bersifat universal (syumuliyyah) dan meliputi seluruh aspek kehidupan (mutakamil). “Islam mencakup juga tatanan mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara, mengatur masalah sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Karenanya, Islam menolak pandangan dan upaya yang memisahkan antara agama dan politik,” kata Asrorun.
Kedua, hubungan agama dan negara adalah hubungan yang saling melengkapi. Politik dan kekuasaan dalam Islam ditujukan untuk menjamin tegaknya syariat (hirasat al-din) dan terjaminnya urusan dunia (siyasat al-dunya). Politik dalam Islam adalah sarana untuk menegakkan keadilan, sarana amar makruf nahi munkar, dan sarana untuk menata kebutuhan hidup manusia secara menyeluruh.
“Agama dan simbol keagamaan tidak boleh hanya dijadikan kedok untuk menarik simpati dan pengaruh dari umat beragama serta untuk mencapai tujuan meraih kekuasaan semata. Politik juga tidak boleh dipahami hanya sebagai sarana meraih kekuasaan tanpa memperhatikan etika dan moral keagamaan,” tambahnya.
Ketiga, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dibentuk dengan kesepakatan menempatkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dalam dasar bernegara. Dengan demikian, seluruh aktifitas politik kenegaraan harus dibingkai dan sejalan dengan norma agama. Karenanya, setiap upaya memisahkan antara agama dengan politik kenegaraan adalah bertentangan dengan dasar negara dan konsensus bernegara.
Keempat, di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, agama harus dijadikan sebagai sumber inspirasi dan kaidah penuntun, sehingga tidak terjadi benturan antara kerangka berpikir keagamaan dan kerangka berpikir kebangsaan. Penyelenggara negara tidak memanfaatkan agama sekedar untuk kepentingan tujuan meraih kekuasaan semata.
Kelima, tempat ibadah bukan hanya untuk kepentingan ritual keagamaan (ibadah mahdah) semata. Ia harus dijadikan sebagai sarana pendidikan dan dakwah Islam, termasuk masalah politik keumatan, bagaimana cara memilih pemimpin sesuai dengan ketentuan agama, dan bagaimana mengembangkan ekonomi keumatan, bagaimana mewujudkan kesejahteraan masyarakat serta bagaimana mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Keenam, dalam prakteknya, arah tujuan politik praktis adalah memperoleh kekuasaan, sementara kekuasaan cenderung korup. Karenanya, praktek politik kekuasaan harus dipandu oleh norma-norma luhur keagamaan agar tidak menghalalkan segala cara. Aktifitas politik yang tidak dijiwai agama akan cenderung melakukan tindakan menyimpang dan menghalalkan segala cara.
Ketujuh, Islam tidak membenarkan praktek politik yang diwarnai oleh intrik, fitnah, dan adu domba untuk mencapai satu tujuan politik, apalagi dengan membawa dan memanipulasi agama, mengatasnamakan agama, dan/atau menggunakan symbol-simbol agama, menjadikan agama hanya sekedar dijadikan sebagai alat propaganda atau hanya untuk memengaruhi massa.
Kedelapan, simbol-simbol agama, atau simbol-simbol budaya yang identik dengan simbol agama tertentu tidak boleh digunakan untuk menipu dan memanipulasi umat beragama agar bersimpati guna mencapai tujuan politik tertentu. Tindakan tersebut bertentangan dengan ajaran agama dan termasuk penodaan agama.
PH/IslamIndonesia/Sumber: republika, detik
Photo: ROL/Fakhtar K Lubis
Sumber Berita : https://islamindonesia.id/berita/delapan-fatwa-mui-tentang-politisasi-agama.htm

Dua Siska Pelaku Teror, Mahasiswi UPI dan Guru Tajwid yang Berbaiat ke ISIS

DutaIslam.Com – Dua perempuan yang ingin Menghabisi Anggota Brimob, Dita Siska Millenia dan Siska Nur Azizah, merupakan “calon teroris” yang telah berbaiat ke ISIS. Dita Siska Milenia bekerja sebagai Guru Tajwid di Pondok Dauhrul Ulum, Cilacap. Sedangkan Siska Nur Azizah merupakan mahasiswa semester enam Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Keduanya ditangkap karena diduga hendak membantu para napi terorisme di Mako Brimob dan menyerang aparat kepolisian.
Berikut ini profil lengkap kedua perempuan bercadar sebagaimana dilansir dari kumparan.com.

1. Dita Siska Millenia
Dita Siska Millenia alias Maumil alias Ukhti Dita alias Dita lahir di Temanggung, 25 Januari 2000. Ia bekerja sebagai Guru Tajwid di Pondok Dauhrul Ulum, Cilacap.
Semasa SMA, Dita sempat ikut dalam organisasi Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM). Ia lulus dari SMK Muhammadiyah Kendal tahun 2017. Dalam setahun terakhir perempuan berusia 18 tahun ini aktif mengikuti perkembangan Daulah Islamiyah di media sosial.
Pada pertengahan 2016 Dita memutuskan berbaiat mendukung ISIS pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi. Dari tangan Dita polisi mengamankan sebuah Kartu Anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Identitas KTP, hingga satu buah dompet.

2. Siska Nur Azizah
Siska Nur Azizah alias Siska alias Fatmah alias Teteh lahir di Ciamis, 31 Desember 1996. Siska merupakan seorang mahasiswa semester enam di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat. Ia memiliki pekerjaan sampingan berjualan donat di kawasan kampus.
Berdasarkan kesaksiannya, pada tahun 2016-2017 Siska sempat bergabung dalam kelompok Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW9). Siska juga mengikuti sejumlah organisasi lain seperti UKDM Unit Kegiatan Dakwah Mahasiswa dan Ikatan Remaja Masjid.
Sama halnya dengan Dita, Siska memutuskan berbaiat kepada Abu Bakar Al-Baghdadi pada Oktobr 2017 atas keinginan sendiri.
Keduanya bertemu di salah satu grup di Whatsapp pada tahun 2017. Adapun grup tersebut memang aktif membahas tentang ilmu tauhid, akidah, jihad hingga upaya memerangi thogut. [dutaislam.com/pin]
Dua Pelaku Rencana Pembunuhan Terhadap Petugas Mako Brimob. Foto: Istimewa. 

Diajukan Sejak 2016, Jika Juni RUU Antiterorisme Belum Kelar Presiden Akan Bikin Perppu

DutaIslam.Com – Dua hari berturut-turut Kota Surabaya diserang bom oleh teroris yang didugakuat jaringan ISIS, Ahad-Senin (13-14/05/2018). Kejadian ini tidak berselang lama dari peristiwa kerus keributan yang melibatkan petugas dan dan napi teroris di Mako Brimob Depok, Selasa (08/05/2018). Disusul kemudian penangkapan dua perempuan muda pendukung ISIS yang hendak menghabisi polisi di lokasi yang sama.
Duh! Ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang darurat terorisme yang berakar pada pemahaman radikal terhadap ajaran agama. Revisi UU antiterisme yang kini masih di meja Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendesak untuk diselesaikan sebagai legalitas negara memberantas kebiadaban pelaku teror.  
Presiden Joko Widodo geram dengan sederet ledakan bom di Surabaya yang terjadi berturut-turut. Jokowi meminta DPR segera menuntaskan Revisi UU antiterorisme. Jika tidak, maka akan diterbutkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu).

Menurut Presiden, revisi UU ini sudah diajukan pemerintah kepada DPR pada Februari 2016 yang lalu. Artinya, sudah dua tahun tergeletak di meja DPR. Presiden meminta untuk segera diselesaikan secepatnya-cepatnya. Presiden memberi batas masa sidang 18 Mei mendatang.
"Kalau nantinya di bulan Juni di akhir masa sidang ini belum segera diselesaikan, saya akan keluarkan perppu," kata Jokowi, dilansir dari kompas.com.
Pernyataan ini juga disampaikan presiden melalui akun Twitternya @jokowi. Menurut presiden, RUU Antiterorisme merupakan payung hukun yang penting bagi aparat untuk menindak tegas pelaku teror.
 
“UU ini merupakan hal yang penting bagi aparat, bagi polri untuk bisa menindak tegas baik dalam pencegahan maupun tindakan. Kalau nanti Juni, di akhir masa sidang ini belum segera di selesaikan, saya akan keluarkan Perppu,” tulis Jokowi. [dutaislam.com/pin]
RUU Antiterorisme. Foto: Istimewa.

Re-Post by http://migoberita.blogspot.co.id/ Senin/14052018/18.30Wita/Bjm 

Wahai Rakyat Indonesia dan Pemerintah NKRI yang SAH !!! Aku, Kamu, Kita dan Kalian Tidak Takut akan Teror Teroris !!!

Joko Widodo

Dua Tersangka Teroris Melawan Petugas yang Mengawal, Mencekik dan Mencoba Merebut Senjata

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Di balik rusuh 40 jam di Mako Brimob Kepala Dua, Depok, Jawa Barat, sampai Kamis (10/5) pagi, terungkap ada empat terduga teroris yang mencoba menerobos masuk ke dalam rutan Mako Brimob.
Keempat terduga teroris itu bermaksud membantu rekan-rekan napi terorisme melakukan perlawanan menghadapi petugas.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo membenarkan adanya rencana kelompok terduga teroris menerobos masuk Mako Brimob Kelapa Dua.

Joko Widodo

“Kamis sekira pukul 01.35 WIB di Jalan Stasiun Tambun, Mekarsari, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, polisi mendapat informasi ada sekolompok orang menuju Mako Brimob untuk membantu rekan-rekan napi teroris yang melakukan perlawanan kepada petugas di rutan Mako Brimob," jelas Setyo di Mabes Polri, Jumat (11/5/2018).
Usai mendapatkan informasi tersebut, sebut dia, kepolisian bergerak dan menangkap keempat orang tersebut.
Pukul 05.30 WIB, empat orang berinisial AM,HG, RA dan JG itu rencananya menuju Jakarta.
Saat akan diamankan, RA dan JG melakukan perlawanan kepada anggota yang membawa keduanya dan dua terduga teroris lainnya.
Setyo berujar, RA dan JG memberontak serta berusaha mencekik anggota yang melakukan pengawalan.
"Keduanya berusaha merebut senjata api dari anggota yang mengawal," kata Setyo.
Akhirnya, anggota kepolisian melakukan tindakan terhadap RA dan JG dengan menembaknya.
Kedua orang yang terluka itu kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kramat Jati untuk mendapatkan perawatan.
"Namun setelah dua jam mendapat perawatan, RA meninggal dunia, sedangkan JG masih dalam perawatan. Dari tindakan tegas dan terukur tersebut mengakibatkan satu orang meninggal dan satu orang luka-luka," kata Setyo.
Dalam peristiwa penangkapan itu, Polri mengamankan satu sangkur, satu belati, 25 butir peluru kaliber 9 milimeter, 25 paku tembak, dua ketapel, 3 busur besi, 69 peluru gotri, dua buah golok dan 48 butir peluru senapan angin.
"Upaya yang dilakukan, polisi membawa tersangka yang melakukan perlawanan atas nama RA dan JG ke rumah sakit, polisi mengamankan yang selamat untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut dan mengamankan bukti yang sudah ada," kata Setyo.
Dua Tersangka Teroris Melawan Petugas yang Mengawal, Mencekik dan Mencoba Merebut Senjata
Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/05/12/dua-tersangka-teroris-melawan-petugas-yang-mengawal-mencekik-dan-mencoba-merebut-senjata

Jokowi Lemah Penegakan Hukum? Noh, HTI Dilarang

Isu bahwa Jokowi lemah dalam penegakan hukum, semakin menyeruak di alangan pendukung Jokowi. Bahkan suara-suara golput meluas. Mereka kecewa akan terbitnya SP3 HRS dan mengkaitkannya dengan Jokowi.
Padahal kalau mau melihat, bagaimana tegasnya Jokowi dalam menangkal radikalisme, bisa dilihat bagaimana ia membubarkan HTI. HTI yang mengklaim diri mempunyai 2-3 juta anggota di seluruh Indonesia, akhirnya terstigma sebagai PKI karena ideologinya mengancam Pancasila.
Hanya pada masa Jokowi inilah HTI tidak dibiarkan berkembang lebih besar dengan dakwah2nya yang selalu berseru "negara khilafah". Tegas dan konstitutional, Jokowi membubarkan HTI melalui Perppu.
Inilah yang tidak banyak dilihat orang yang memimpikan Jokowi maen hantam ala diktator. Jokowi taat pada hukum dan menggunakan hukum untuk menghajar musuh2 negara. Semua harus berdasarkan hukum, tidak bisa seenaknya saja. Dengan begitu Jokowi mengajarkan kepada masyarakat untuk menggunakan hukum sebagai senjata.
Kalau Jokowi diktator, tentu orang-orang HTI ditangkapi. Bahkan bisa jadi "hilang" demi ingin memperlihatkan bahwa ia tegas. Tapi ini berbahaya, karena ia akan dihajar oleh HAM. Jokowi main cantik sekaligus cerdik.
Jokowi tidak ingin menjadikan HTI pahlawan karen mereka memang jago bermain persepsi sebagai orang yang terzolimi.
Karena ia anti dengan organisasi radikalis inilah ia dihajar dimana2, difitnah dimana2. Hajaran itu bukan hanya dari yang kontra dia saja, tapi juga dari pendukung dia yang "banyak gak puas"nya. Mereka inginnya semua instan, tanpa melalui proses2 yang seharusnya.
Hanya pada masa pemerintahan Jokowi inilah HTI menemukan ajalnya. Tinggal bagaimana mengurung ideologi-ideologi yang masih tersebar dengan memperkuat barisan bersama para ulama untuk menyebarkan Islam Nusantara, bukan Islam khilafah.
Jadi yang berteriak-teriak "Jokowi lemah" kelihatannya harus menjilat kembali ludahnya. Mereka menganggap "kuat" itu harus pake otot. Mereka salah besar. Jokowi bermain pake otak..
Gugatan HTI akhirnya tidak dikabulkan oleh PTUN. Dengan begitu HTI akan menjadi organisasi terlarang, begitu juga ideologi2nya. HTI menjadi "komunisme dalam balutan agama".
Saya jadi pengen denger bagaimana tanggapan Felix siauw dan Bachtiar Nasir sesudah gugatan HTI tidak dikabulkan. Apakah mereka akan teriak-teriak merasa terzolimi lagi dan buka donasi #SaveHTI seperti yang biasa mereka lakukan?
Mari kita tanya secangkir kopi yang terhidang. Seruputtt..
HTI 
HTI

HIZBUT TAHRIR & KUDETA MILITER

"Seberapa berbahayanya Hizbut Thahrir sehingga harus dibubarkan?". Tanya seseorang di kotak pesanku. Ia lalu bercerita bahwa HTI adalah gerakan non kekerasan. HTI hanya melakukan demo dan orasi dijalan, tanpa anarki. Dan seharusnya pemerintah menghormati hak asasi bersuara tanpa harus membungkam mereka.
Ini pertanyaan salah. Seharusnya dia bertanya, "Kenapa gerakan Hizbut Tahrir dilarang di banyak negara?". Bukan hanya Indonesia, tetapi juga Mesir, Libya, Suriah, Irak bahkan Saudi melarang keberadaan Hizbut Tahrir.
Dari situ saja seharusnya ia sudah mendapat kesimpulan betapa berbahayanya Hizbut Tahrir, organisasi transnasional ini. HT bukan organisasi kemaren sore seperti beberapa kelompok agama garis keras di Indonesia. Jejak mereka tercatat banyak dalam percobaan kudeta di beberapa negara.
Salah satu pola Hizbut Tahrir adalah penyusupan mereka ke MILITER.
Sengaja saya beri huruf kapital supaya kita paham bagaimana dan dimana HT bergerak. Mereka masuk baik sebagai ulama -mengisi majelis keagamaan- ataupun anggota militer dan membangun kekuatan disana.
Gerakan HT begitu halus sehingga tanpa disadari, mereka sudah menguasai militer dengan "mencuci otak" bahwa pendirian negara Islam adalah keharusan. Dan untuk mendirikan mimpi itu, segala cara harus dilakukan, bila perlu dengan darah dan senjata.
Dan itulah yang terjadi di Yordania, ketika mereka melakukan kudeta militer di tahun 1969. HT melakukan kudeta militer yang sama di Irak dan Mesir (1974) juga Suriah (1976).
Di Pakistan (Mei 2011), beberapa prajurit pengikut Hizbut Tahrir berencana melakukan kudeta militer tetapi berhasil digagalkan.
Meskipun semua kudeta militer mereka gagal, tapi bisa dilihat betapa berbahayanya HT ketika mereka ada disebuah negara. Mereka melakukan perekrutan dan pengkaderan dengan sangat sistematis dan menghasilkan orang-orang fanatik yang mau melakukan apa saja demi berdirinya negara Islam.
Meskipun organisasinya dilarang, ideologi penganut Hizbut Tahrir sulit dihilangkan. Karena mendirikan negara Islam adalah bagian dari keimanan mereka. Itulah kenapa di beberapa negara, petinggi-petinggi HT ditangkapi dan dihukum mati. Karena hanya itu solusi menghilangkan gerakan mereka. Meski begitu, di negara demokrasi seperti Indonesia ini hal itu sulit dilakukan..
Berkembangnya Hizbut Tahrir di Indonesia sebenarnya sudah lama, sejak tahun 1980an. Tetapi mereka baru mencatatkan badan hukum mereka pada bulan Juli 2014.
Meski begitu, tahun 2013, HTI pernah tampil di TVRI siaran deklarasi mereka di Gelora Bung Karno dan dihadiri ribuan orang. Mereka meneriakkan anti Pancasila dan demokrasi juga tentang pendirian negara Islam.
Sesudah merajai masjid-masjid kampus, sekolah-sekolah dan pemerintahan dalam bentuk dakwah dan pengkaderan, pada masa pemerintahan Jokowilah, HTI dibubarkan melalui Perppu tahun 2017. Meski agak terlambat karena penyebaran HTI sudah seperti kanker stadium tinggi di negeri ini, tetapi setidaknya mulai ada perlawanan.
Dari sejarah dan fakta diatas, kita tahu betapa berbahayanya HTI di Indonesia.
Pembubaran mereka bukan solusi final, karena mereka pasti akan menyebar ke partai dan ormas yang se ideologi dengan mereka. Tetapi setidaknya kita sudah memulai. Dan stigma "terlarang" HTI menjadikan mereka seperti PKI yang juga dilarang di negeri ini.
Orang-orang HTI dengan gayanya yang khas akan selalu membangun persepsi bahwa mereka adalah gerakan dakwah dan non kekerasan. Padahal sesungguhnya, merekalah biang dari segala biang kehancuran sebuah negeri.
Terimakasih, Jokowi dan jajarannya. Terimakasih NU, Ansor & Banser.
Selanjutnya, mari kita hadang dakwah-dakwah mereka yang selalu penuh dengan senyuman manis tapi sesungguhnya sangat berbisa..
Seruput kopinya...
HTI HTI Dibubarkan

TERORIS ITU BINATANG BUAS

Ketika mendengar awal berita bahwa kelompok teroris di Mako Brimob memegang senjata dan menyandera polisi yang bertugas, saya sudah bisa membayangkan apa yang terjadi...
Belajar dari Suriah, kelompok militan ini sangat mudah membunuh seseorang karena dia dianggap kafir. Khusus untuk Indonesia, aparat keamanan terutama polisi, sudah halal darahnya bagi mereka.
Dan ketika halal, maka para teroris akan berpesta pora dan berebut untuk membunuhnya, karena - bagi mereka - dengan membunuh musuhnya "yang thogut dan kafir", surga sudah ada di hadapannya..
Jadi bayangkan, ketika kita berada pada posisi polisi yang disandera dan kelompok teroris yang memegang senjata, jangan bayangkan untuk mendapatkan ampunan - apalagi atas nama HAM. Mereka akan membabat habis tanpa sedikitpun belas kasih karena mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan benar..
Sudah pasti akan ada penyiksaan dulu sebelum dihabisi. Itu ritual dan hiburan bagi mereka. Selain itu, masing2 diantara mereka berebut gelar siapa yang paling terkejam diantara mereka sendiri. Pangkat2 itu penting, selain untuk meraih nama besar, juga sebagai alat untuk mengatur barisan.
Kalau mau tahu hukum rimba, hiduplah bersama mereka. Kamu yang makan mereka atau mereka yang makan kamu. Itu hukumnya..
Karena itu, mengumpulkan hewan2 ini dalam satu blok sel sejatinya bukanlah hal yang bagus. Para teroris ini seperti Raptor, mereka berburu mangsa secara berkelompok. Dan mereka menjadi tidak efektif ketika sendirian.
Sejatinya mereka itu penakut, tetapi ketika bersatu dalam sebuah entitas, mereka menjadi buas. Persis seperti seorang bocah yang kehilangan kepercayaan diri ketika sendiri, tapi ketika bergabung dalam sebuah kelompok besar - supporter sepakbola atau geng motor misalnya - dia bisa menjadi sangat kejam hanya karena ingin menunjukkan siapa dia kepada kelompoknya.
Seharusnya ada sel-sel khusus dimana mereka akan terpisah dari barisannya. Atau dicampur dengan tahanan lain dengan perkara kriminal yang jauh lebih beringas supaya mendapat pelajaran.
Pada intinya, kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua bisa memberi pelajaran kepada kita, bahwa kelompok teroris ini, bermula dari pemahaman agama yang keras. Mereka adalah buah dari provokasi, dakwah yang mengajarkan membenci dan pandangan sempit akan keberagaman.
Mereka sejatinya ada disekitar kita, menajdi tetangga kita bahkan saudara kita. Kita bisa mencium bau kekerasannya, tetapi terlalu takut untuk melawannya.
Jangan sampai mereka membesar, karena apa yang dialami oleh almarhum 5 polisi yang disandera dan disiksa secara sadis, akan juga terjadi pada kita jika kita abai dan tidak mampu menjaga diri..
Turut berduka cita kepada mereka yang gugur dalam tugas. Dan selamat berfikir untuk kita yang mendapat pelajaran dari hilangnya nyawa seseorang..
Seruput kopinya..
ISIS Teroris

PARA PENGGOROK LEHER

Menurut penjelasan dari pihak kepolisian, 5 anggota polisi yang tewas ditemukan dalam kondisi luka parah di leher..
Dalam artian, pada waktu disandera, nyawa mereka dihabisi dengan cara digorok lehernya.
Dan itu cara brutal yang menjadi ciri khas teroris dalam menghabisi nyawa orang yang mereka halalkan darahnya. Seperti menyembelih kambing kurban. Hanya ini manusia dan sebelumnya lebih dulu disiksa..
Kekejaman mereka yang berideologi khilafah ini, sebenarnya bukan rahasia lagi. Taliban ketika menguasai Afghanistan, dalam menghukum mati orang2 yang mempunyai kesalahan suka menerjunkan mereka dari gedung tinggi dengan leher dikalungkan batu berat.
Bahkan disebuah daerah di Afghanistan ada kolam renang kosong yang terkenal dengan nama "Kolam Kematian". Kolam renang kosong ini tempat menghukum mati mereka yang "bersalah" menurut versi Taliban, dengan menaikkan mereka ke papan loncat yang paling tinggi dan menerjunkan korbannya sampai mati.
Di Irak dan Suriah, kekejaman model seperti ini adalah cerita sehari-hari. Semakin lama kelompok bengis ini semakin kreatif dalam menghukum mati. Ada yang ditaruh dalam kerangkeng dan ditenggelamkan, ada yang diikat kaki dan tangannya dipunggung kemudian dipanggang dan ada yang lehernya dikasi granat kemudian diledakkan..
Buat kelompok khilafah ini, itu seperti hiburan. Orang yang halal darahnya versi mereka adalah seperti hewan ternak yang mereka bisa mainkan seenaknya. Dan mereka sama sekali tidak merasa berdosa, bahkan buat mereka itu menambah keimanan.
Dan ciri khas mereka adalah selalu mengumandangkan Takbir "Allah Maha Besar".
ISIS itu hanya nama sebuah organisasi, dan mereka bisa berganti nama seperti mengganti baju sehari2. Ada Taliban, ada FSA, ada Alqaedah dan banyak lagi. Di Indonesia juga begitu. Organisasi boleh beda, tetapi ideologi mereka sama.
HTI yang baru dibubarkan itu adalah kelompok intelektualnya. Mereka bermain di wilayah penguasaan militer dan pemerintahan. Mereka menguasai teknologi dan media sosial. Sedangkan pasukan barbarnya adalah kelompok jihadis2 seperti kelompok Santoso di Poso itu..
Melihat teroris yang sadis seperti itu, saya menyayangkan beberapa anggota DPR yang haus kekuasaan dan pejabat2 termasuk petinggi partai, membela teroris dengan nama HAM. Kelompok2 seperti ini sering membaur dalam aksi massa yang berbaju agama terutama Islam, dan mencoba menarik simpati masyarakat yang beragama dengan instan..
Memilih pemimpin yang melawan kelompok2 teroris itu, adalah bagian dari perlawanan supaya mereka tidak berkembang dengan menumpang partai tertentu..
Sekaligus menjaga leher2 kita dan anak2 kita dari kelompok binatang buas itu.. Seruput...
Militan Teroris Biadab

Teroris Itu Bisa Jadi Teman Sekantor Anda

Sadisnya para teroris dalam memperlakukan korbannya, seharusnya menyadarkan kita..
Bahwa mereka tidak ada di Suriah, mereka bukan di Irak, bukan di Afganistan, bukan di Marawi Filipina, bukan juga di pedalaman hutan Poso sana. Mereka ada di jantung ibukota, menghirup udara yang sama dengan kita, makan di warung yang sama dengan kita dan naik angkutan umum yang sama dengan kita..
Sel-sel tidur mereka mulai nampak, muncul ke permukaan seiring dengan komando dan sinyal-sinyal yang diberikan. Mereka ada di media sosial, mendukung pembantaian, mengutuk aparat dan mencaci orang2 yang berseberangan.
Pada saat kejadian di Mako Brimob, mereka bahkan ada di daerah sekitar menunggu lengahnya aparat untuk membantai saat teroris di penjara menang..
Dan ketika mereka menguasai satu wilayah, maka orang2 yang dulu membela mereka, yang sok2an netral, yang acuh dengan kehadiran mereka, akan dijejerkan bersama-sama dan didudukkan dengan lutut menyentuh tanah dan tangan diikat ke belakang.
Orang2 itu akan digorok, dipenggal dan paling bagus ditembak kepalanya. Tidak ada yang disisakan oleh mahluk haus darah ini, karena genocida adalah salah satu program mereka.
Gak perduli anda agama Kristen, Budha bahkan Islam sekalipun, mereka tidak ada ampun. Bahkan meski korbannya memohon dengan mengucap syahadat dan meneriakkan nama besar penciptaNya. Semua akan ditebas, karena mereka merasa nikmat dengan bau anyirnya darah. Mereka kecanduan untuk terus berbuat hal yang sama..
Leher anda, saya dan anak2 kita, menjadi taruhan ketika mereka membesar dan berkuasa.
Mereka bisa jadi adalah tetangga anda, saudara, teman sekolah masa kecil bahkan teman sekantor.
Mulailah memerangi ideologi mereka. Rapatkan barisan dan selidiki orang2 baru disekitar anda. Perang ketua RT dan RW sangat penting disini karena merekalah yang seharusnya tahu siapa saja warga2nya.
Usirlah penceramah2 yang mengobarkan kebencian dan provokasi di masjid2 dan pengajian anda. Jangan beri mereka ruang. Karena mereka seperti virus yang terus mencari inang. Sekali bercokol, maka mereka akan menyebar..
Inilah saatnya jihad, membela negeri. Saatnya bangun dan sadar bahwa teroris tidak jauh, mereka sudah dekat sekali. Jika bukan kita yang membela negeri ini, lalu siapa lagi ?
Jangan sampai secangkir kopi yang terhidang hari ini, menjadi kopi terakhir yang bisa kita nikmati...
Militan Teroris

MEMBENCI JOKOWI

Kenapa kebanyakan pendukung teroris adalah pembenci Jokowi? Tidak perlu survey untuk ini. Perhatikan saja komen-komen yang muncul maupun status yang dibuat pada saat kerusuhan Mako Brimob berlangsung. Rata-rata mereka yang menganggap bahwa kerusuhan di Mako itu adalah settingan, selalu ada postingan #2019GantiPresiden di status mereka.
Bahkan di grup-grup WA, teman-teman kecil saya dulu yang notabene adalah pembenci Jokowi sejak pilpres, turut menyuarakan bahwa kerusuhan Mako Brimob adalah bagian dari pengalihan isu karena lemahnya rupiah terhadap dollar AS. Mereka jangankan berempati kepada keluarga korban polisi, bahkan mereka membangun teori konspirasinya sendiri..
Sebenarnya mudah jawabannya, meski akan banyak yang menyangkalnya..
Kebencian kepada Jokowi dipicu karena tidak berkuasanya Prabowo. Prabowo bagi mereka adalah inang yang sempurna untuk berkembang biaknya virus ideologi yang sudah mereka tanam di negeri ini sejak lama. Ketika Jokowi memimpin, maka sesaklah dada mereka..
Jokowi menumpas terorisme di Indonesia mulai dari akar pertumbuhannya, yaitu pendanaan.
Kelompok garis keras ini merasakan lesu darah ketika Jokowi menyetop dana bantuan sosial - bansos - dan dana hibah untuk mereka.
Dana bansos dan hibah yang selama ini dinikmati ormas-ormas dan LSM fiktif, dialihkan ke hal yang lebih berguna. Penghentian dana bansos ini dimulai sejak Jokowi menjadi Gubernur Jakarta dan diteruskan oleh Ahok. Ketika Jokowi menjadi Presiden, ormas-ormas yang mengajukan proposal pendanaan semakin kering dapurnya dan itu menghalangi mereka untuk menyebarkan ideologinya.
Kemudian Jokowi mengeluarkan Perppu pembubaran HTI. Maka semakin meradanglah mereka. Kemarahan kelompok garis keras ini bukan karena mereka punya ikatan kuat dengan HTI, tapi karena ketakutan bahwa mereka akan menjadi sasaran berikutnya. Hanya pada masa Jokowi inilah, agenda-agenda besar mereka untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri khilafah, berhenti.
Ditambah PKS yang sudah tidak bisa "bisnis" di kursi pemerintahan lagi. Lihat saja ketika PKS dulu ada di pemerintahan, semua jadi terlihat aman tentram dan sentosa, meski mereka sebenarnya menggerogoti dari dalam.
Itulah kenapa Jokowi dijadikan mereka sebagai "musuh bersama". Pada masa SBY kelompok garis keras ini berkembang dengan cepat menguasai masjid dan majelis taklim, karena memang difasilitasi dan dibiarkan berkembang.
Jadi, buat saya, membela Jokowi bukan karena membela sosok yang nafsu berkuasa. Tetapi membela utuhnya negeri ini karena jika kelompok garis keras ini kukunya dibiarkan mencengkeram terlalu dalam, satu waktu habislah kita.
Jika musuh kelompok garis keras ini adalah Jokowi, maka saya akan berpihak pada lawan mereka. Jadi sudah pasti saya akan dibenci juga oleh mereka.
Sesederhana itu sebenarnya. Seperti sederhananya secangkir kopi yang selalu ada tersedia di atas meja.
Joko Widodo Presiden Jokowi
 
Empat Terduga Teroris yang Menuju Mako Brimob Diketahui Berasal dari Jaringan Ini
BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Dari hasil penyelidikan sementara kepolisian terungkap keempat orang berinisial AM, HG, RA dan JG ini ditangkap di Jalan Stasiun Tambun, Mekarsari, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat mencoba menuju Mako Brimob Kelapa Dua untuk membantu aksi kerusuhan berasal dari jaringan Jemaah Ansharut Daulah (JAD).
"Dari hasil pemeriksaan sementara, keempat terduga teroris merupakan jaringan Jemaah Ansharut Daulah (JAD) Bandung, Jawa Barat yang akan bergerak ke Jakarta, khususnya ke Mako Brimob," beber Setyo kepada awak media di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (11/5).
Polri menduga mereka akan ikut membantu narapidana pada saat insiden kerusuhan di Rutan Salemba, Cabang Mako Brimob Kelapa Dua.
Sebelumnya, polisi menghentikan operasi di Rutan Cabang Salemba Mako Brimob pada Kamis (10/5) pukul 07.15 WIB.
Operasi terkait peristiwa penyanderaan sejumlah anggota Polri di Rutan Cabang Salemba Mako Brimob Kelapa Dua yang dilakukan sejak Selasa (8/5).
Lima anggota Brimob gugur dalam upaya menghadapi para napi teroris.
Sementara satu narapidana juga tewas dalam peristiwa tersebut.
Sementara sandera terakhir Bripka Iwan Sarjana berhasil dibebaskan setelah melalui negosiasi antara petugas dengan para napi teroris, Kamis (10/5) dinihari.Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/05/12/empat-terduga-teroris-yang-menuju-mako-brimob-diketahui-berasal-dari-jaringan-ini

Ngeri, Hanya Luka Kecil Tapi Menewaskan Anggota Brimob, Diduga Pisau Itu Beracun


BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Pascakerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dunia, satu anggota Brimob dilaporkan tewas disabet pisau yang diduga mengandung racun oleh seseorang pada Jumat (11/5) dinihari.
Korban diketahui Satuan Intelijen Brimob bernama Bripka Marhum Prencje (41).
"Luka yang dialami korban (Prencje) sangat kecil, kemungkinan besar (pisau yang digunakan pelaku) itu beracun. Ini sedang diperiksa Puslabfor," kata Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian saat melayat ke rumah duka Aipda Anumerta Luar Biasa Denny Setiadi, Cipayung, Jakarta Timur.

Denny Setiadi adalah satu dari lima anggota Densus 88 yang tewas diserang dalam kerusuhan disertai penyanderaan 40 jam oleh 155 napi teroris di Rumah Tahanan (rutan) Cabang Salemba di Mako Brimob Kelapa Dua pada Selasa malam hingga Kamis (10/5) pagi.
Tito berujar, Bripka Prencje tewas disabet oleh pelaku Tendi, bukan ditusuk.
Sebab, hasil identifikasi jenazah korban terdapat bekas luka menyamping di bagian perut.
Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/05/12/ngeri-hanya-luka-kecil-tapi-menewaskan-anggota-brimob-diduga-pisau-itu-beracun

Tak Terdeteksi, Ternyata Pelaku Menyembunyikan Pisau di Bagian Ini

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto membeberkan kronologi kejadian serangan dengan pisau di Mako Brimob yang menewaskan anggota Satuan Intel Korps Brimob, Bripka Marhum Prencje.
Kata Setyo, kejadian bermula ketika Bripka Prencje yang tengah bertugas di sekitar Mako Brimkob mengamati selama dua jam adanya gerak-gerik mencurigakan dari seorang pria tidak dikenal pada Kamis pukul 23.39 WIB.
Pria itu terus mengamati penjagaan di Mako Brimob.
Pada Jumat pukul 01.39 WIB, dia meminta bantuan rekannya, Briptu Gustriuce dan Bripka Rahmad Muin untuk menemui dan meminta keterangan kepada pelaku.
Masih kata Setyo, saat diamankan, pelaku yang mengaku bernama Tendi Sumarno (22) itu dengan status mahasiswa.
“Anggota kami selanjutnya mengamankan dan menggeledah tubuh dan tas yang dibawa oleh Tendi. Saat itu, tidak ditemukan barang berbahaya seperti senjata tajam,” kata Setyo.
Selanjutnya, lanjut dia, Bripka Francje dan dua rekannya membawa Tendi dengan sepeda motor ke dalam Mako Brimob untuk menuju kantor Satintel Brimob untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Tiba di kantor Satintel Brimob, Tendi digiring menuju ke satu ruangan.
Saat itu mereka berjalan dengan posisi Bripka Frence di depan, diikuti TS, Briptu Gustriuce dan Bripka Rahmad.
“Tiba-tiba, pelaku Tendi mengeluarkan sebilah pisau dari dalam celana dan langsung menyerang bagian perut Bripka Frencje,” ujar jenderal bintang dua itu.
Diduga, sebut Setyo, Tendi menyembunyikan pisau itu di bawah alat vitalnya sehingga lolos saat digeledah.
Penikaman itu terjadi pukul 02.29 WIB.
"Saat akan masuk ke salah satu ruangan, orang yang mengaku TS Tadi mengeluarkan pisau yang disimpan di bawah alat kemaluan," ucapnya.
Usai menikam, Tendi berbalik dan menyerang Briptu Gustriuce. Briptu Gustriuce yang sudah siap langsung mengambil tindakan tegas dengan menembaknya.
Selanjutnya, Bripka Frence dan pelaku Tendi Sumarno dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Mako Brimob.
Namun, nyawa keduanya tak tertolong.
Usai dilakukan prosesi penghormatan terakhir di Mako brimob, jenazah Bripka Marhum Frence akan diterbangkan dengan pesawat ke Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
Jenazah Bripka Frence akan dimakamkan di tanah kelahiranya.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian sempat memberikan penghormatan kepada anak buahnya itu di Mako Brimob. Dia juga sempat memberikan dukungan moril kepada anak almarhum yang mendampingi peti jenazah.
Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/05/12/tak-terdeteksi-ternyata-pelaku-menyembunyikan-pisau-di-bagian-ini?page=2

Polda Kalsel Siaga 1, Petugas Lakukan Pengecekan Sel Tahanan Setiap Waktu

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - MESKI situasi keamanan pascapenyanderaan anggota di rumah tahanan Mako Brimob Jakarta telah aman terkendali serta kondusif namun jajaran kepolisian masih waspada dan meningkatkan keamanan.
Terbukti Mabes Polri menyatakan situasi siaga 1 sejak Jumat (11/5).
“Polda Kalsel siaga I,” kata Kapolda Brigjen Pol Rachmat Mulyana seusai salat Jumat, Jumat (11/5) siang.
Ditanya sampai kapan Siaga 1, Rachmat mengatakan belum tahu sampai kapan, tergantung perintah Mabes Polri.
Bagaimana penjagaan rutan Polda usai kejadian penyanderaan anggota apakah diperketat, Rachmat mengatakan pihaknya setiap waktu melakukan pengecekan.
Anggota diperintahkan untuk terus melakukan pengecekan sel-sel tahanan.
"Kita tetap lakukan pengecekan rutin, kalau diperketat seperti kita paranoid," papar Rachmat.
Berkenaan 200 anggota Brimob Polda Kalimantan Selatan yang berangkat ke Jakarta, Rachmat berujar atas permintaan Mabes Polri untuk membantu pengamanan di Jakarta dan belum tahu sampai kapan keberadaan pasukan Brimob Polda Kalsel di Jakarta.Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/05/12/polda-kalsel-siaga-1-petugas-lakukan-pengecekan-sel-tahanan-setiap-waktu

Usai Salat Jumat, Polda Kalsel Lakukan Salat Gaib

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Terpisah, Kabid Humas AKBP M Rifa'I mengatakan, dengan siaga 1 ini maka keamanan semua markas komando (mako) baik Polda, Polresta, Polres hingga Polsek dipertebal atau diperketat.
Namun penebalan penjagaan dilakukan dengan tidak mencolok atau tetap humanis dalam melayani masyarakat umum.
"Mulai hari ini keamanan dipertebal, sampai kapan kita tak tahu," jelas mantan Kapolres Batola ini.
Namun pantauan BPost, pengamanan tak terlalu mencolok di Polda Kalsel, para anggota hanya lebih banyak daripada hari biasa. Kondisi juga terlihat anggota Brimob di Polda Kalsel.
Gugurnya lima anggota Polri dalam insiden di rutan Mako Brimob Polda menyisakan duka mendalam di lingkungan Polri, tak terkecuali Polda Kalimantan Selatan.
Usai salat Jumat di Masjid Al Muhtadin Polda Kalsel, diakukan salat Gaib untuk para korban yang gugur.
Salat Gaib mendoakan para korban gugur juga diikuti Kapolda Brigjen Rachmat Mulyana serta Wakapolda Kombes M Nasri dan juga para pejabat utama Polda.
Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/05/12/usai-salat-jumat-polda-kalsel-lakukan-salat-gaib

NEWS ANALYSIS: Para Napiter Terlalu Terpaku Pada Pemimpinnya

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Ada problem atau sindrom kepatuhan yang diidap para napi terorisme.
Umumnya para napiter terlalu terpaku pada pemimpinnya.
Sehingga mereka bergerak atas dasar sikap dari pemimpin.
Ini pasti ada problem kepemimpinan yang tidak beres yang mereka idap.
Semacam sindrom kepatuhan kepada pemimpin yang ternyata pemimpinnya sendiri itu lemah di hadapan aparat.
Maka tak heran, para napiter langsung menyerahkan diri begitu pihak kepolisian melakukan ultimatum.
Meski memang ada 10 napiter yang sempat 'ngeyel' dan baru menyerah setelah adanya serbuan dari kepolisian.
Di sisi lain, melihat para napiter yang terlibat dalam tewasnya lima orang anggota polisi tersebut bukanlah 'pejuang'.
Sebab bila memang siap mati, kata dia, tentu mereka tak akan menjilat ludah sendiri dan menyerahkan diri.
Menyerahnya mereka ini menunjukkan mereka bukan pejuang.
Bahwa mereka yang tadinya mengatakan akan bertahan hingga mati ternyata mereka menelan ludahnya sendiri.
Dan, tadinya banyak orang menyangka mereka itu adalah singa-singa jihad.
Tapi tahu-tahu malah jadi kayak kucing garong gitu.
NEWS ANALYSIS: Para Napiter Terlalu Terpaku Pada Pemimpinnya
Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/05/12/news-analysis-para-napiter-terlalu-terpaku-pada-pemimpinnya

Netizen: Terorisme Bukan Jihad, #KamiBersamaPOLRI


Islam jelas tak mengajarkan terorisme, bahkan Islam mengharamkan semua tindakan biadab apapun alasannya, termasuk karena alasan membela agama. Jihad justru tindakan mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW. Bahkan seorang suami mencari nafkah untuk anak istrinyapun sudah termasuk kepada tindakan jihad.
Karenanya bila ada partai dan ormas yang membela terorisme, itu perlu dipertanyakan keberadaannya, dan masyarakat hendaknya bisa cerdas mencermati hal ini, sehingga tak patutlah mereka mendapat dukungan.
Ketika pagi ini terjaga, langsung bersyukur bahwa Iwan Sarjana yang disandra teroris sudah dibebaskan dalam keadaan luka. Masyarakat patut mengapresiasi petugas kepolisian yang tetap berkepala dingin dalam mengatasi tindak brutal teroris hingga mereka menyerahkan diri, dan segera dipindahkan ke Nusa Kambangan. Namun yang miris ISIS sudah berhasil mengunggah videonya di Youtube sebagai bagian kemenangannya.
Perlu kedewasaan netizen dalam menyikapi semua perkembangan yang ada di tanah air, baik yang bersimpati, berempati maupun yang marah. Tidak kemudian mengunggah berita hingga memunculkan video seputar kejadian, karena itu memang yang diharapkan mereka. Begitupun para elite politik dan elite ormas jangan memancing di air keruh dengan pernyataan dungunya, terlebih dikaitkan dengan keberadaan Ahok di Mako Brimob.






























Di tengah banyaknya persoalan hukum dan keamanan yang melanda bangsa ini, bersikaplah cerdas dan bijaksana. Cukuplah 5 petugas yang gugur dengan cara yang sadis, menyusul korban-korban lainnya akibat tindak terorisme yang terjadi untuk kesekian kalinya. Jangan kita ikut memanaskan suasana yang bisa dipolitisir oleh pihak yang berkepentingan.
Akan lebih lebih konyol lagi bila hal ini lalu menyalahkan Jokowi pula. Begitu mudahnya membuat analisis dangkal yang seolah semua salah Jokowi. Sedikit-sedikit menyalahkan Jokowi seperti halnya penghuni bumi datar. Warga masyarakat justru harus makin solid bersatu dan waspada mencermati lingkungannya dalam rangka mendukung kepolisian, bila kita cinta NKRI dan keluarga kita, agar Indonesia tak seperti di Timur Tengah, dan tak ada lagi leher yang tergorok.
Bagi pihak Polri ini harus jadi bahan evaluasi yang mendalam, terlebih di Mako Brimob sudah terjadi yang kali kedua. Sangat mungkin bahwa tragedi ini sudah mereka persiapkan dengan matang, adapun persoalan makan hanya jadi momentum untuk eksekusi rencananya. Ini terbukti bahwa 156 napi teroris mampu merebut 30 pucuk senjata, dan bom rakitan dari hasil sitaan yang belum sempat disimpan di gudang, selain mengapa mereka bisa memiliki ponsel di dalam rutan.
Karenanya ini bukan persoalan sederhana, namun bisa jadi liar terhadap opini yang berkembang di tengah masyarakat. Terlebih terjadinya sesaat setelah putusan PTUN atas pembubaran HTI. Padahal walau tujuannya sama yang bermuara kepada khilafah, tapi mazhab dan kepentingannya berbeda. Yang paling penting adalah, jangan sampai pada akhirnya Islam-lah yang jadi kambing hitamnya.
Ada yang tak kalah pentingnya yakni:
“Desak DPR RI untuk segera menyelesaikan Undang Undang Anti Terorisme yang terlalu lama ditunda. Karena mereka dibayar sangat mahal untuk tugas legeslasi. Sehingga tugas Polri tak tersandra oleh Undang Undang yang terkesan ditarik ulur oleh DPR.” Ada apa? Lalu Komnas HAM dimana?. (SFA)
Terorisme bukan Jihad
 Sumber Berita : http://www.salafynews.com/netizen-terorisme-bukan-jihad-kamibersamapolri.html

Astagfirullah! Maaher Thuwailibi Sebut Polisi ‘Monyet Berseragam Bencong’

JAKARTA – Belum sehari berlalu, kerusuhan di Mako Brimob Depok, Selasa (08/05/2018) beragam komentar, spekulasi, hinaan, bahkan fitnah berhamburan di media sosial. Bukannya berbela sungkawa atas gugurnya sejumlah petugas karena bejatnya tahanan teroris, ada seorang ustadz yang justru berkomentar nyinyir.
Ustadz Maaher At-Thuwalibi melalui tulisannya di Facebook tampak mendukung ISIS dan menyebut polisi dengan sebutan “Monyet Seragam Bencong”.
Baca: Provokasi ala Ustadz HTI Maaher At-Thuwailibi
Memang dia tak mengatakan secara jelas menghina polisi dan mendukung kelompok teroris. Namun, publik akan mengerti bahwa maksud tulisan statusnya ditujukkan untuk insiden yang terjadi di Mako Brimob Depok.
“Info Hangat Yang Viral Di ‘Alam Ghaib’ Sejak Tadi Malam,” demikian Ustadz Maheer memberi judul tulisan yang hanya 4 paragraf tersebut.
“Terjadi pertempuran hebat antara sejumlah pasukan menyerupai pahlawan melawan gerombolan monyet berseragam bencong yang dianggap “mujtahid” oleh “mufti” tower cileungsi. Antara pasukan mirip pahlawan dan gerombolan monyet berseragam bencong itu terjadi baku hantam dan rebutan “bambu runcing”,” katanya kemudian.
Ustad Maher mengatakan, satu orang diantara pasukan berjubahkan pahlawan dari bumi lancang kuning gugur dijemput makhluk surgawi ke alam keabadian abadi. Sementara ada 16 ekor monyet yang katanya berseragam bencong dikabarkan tewas mengenaskan.
Dia kemudian bersyukur, dan peristiwa yang diceritakannya itu dikaitkan dengan pesta demokrasi yang diduga pula olehnya sebagai settingan.
Baca: Bongkar Kebusukan Maher At-Thuwailibi Saat Bela UAS Terkait Suriah dan Assad
“Walhamdulillah, walaupun banyak diantara media bencong mengabarkan tidak ada korban dan hanya “sekedar luka”. Hakikat berita ini, Allahu a’lam. Apakah fakta ini benar dan real adanya, ataukah settingan menjelang ‘pesta demokrasi’ di tahun depan, ataukah ada kaitannya dengan anjloknya nilai harta berharga di negeri boneka. Wallahu ‘Aliimu A’lam,” tulisnya.
Ucapan syukur yang tanpak ditujukkan karena meninggal sejumlah petugas kepolisian diungkapkan lagi di paragraf ketiga. Bahkan ia menyebut kehidupan monyet-monyet hanya akan melahirkan malapetaka dan bahaya bagi peradaban dunia.
“Yang pasti, saya hari ini turut senang dan gembira. Wallahi saya sangat senang. Minimal, berkuranglah populasi monyet berseragam bencong di negeri ini yang eksistensinya hanya menjadi malapetaka dan marabahaya untuk kehidupan manusia dan peradaban dunia,” katanya.
Selanjutnya, Ustad Maheer menegaskan, jika memang benar kerjadian (Mako Brimob) yang disebutnya peperangan antara mujahid dan pasukan moyet, ia lantas mengajak bergembira. Sebaliknya, jika tidak bergembira disebut dia sebagai orang munafiq.
“Jika berita bahwa pasukan monyet berseragam bencong tewas ini adalah benar dan real adanya (yakni bukan permainan atau settingan menjelang ‘pesta demokrasi’ di tahun depan), lalu ada orang yang tidak gembira dengan kenyataan ini, maka ketahuilah dia MUNAFIQ! Walaupun tentunya bisa jadi mereka akan lebih brutal dari zaman pemerintahan “raja-berkharisma” sebelum ‘negeri seribu satu sampah’ dipimpin boneka kayu peliharaan si tua bangka,” ujarnya.
Baca: Ustad Maheer At-Thuwailibi Tuding Ketum PBNU dan Prof Dr. Quraish Shihab Sebagai Ahli Bid’ah
Berdasarkan pantaun, tulisan Ustad Maaher sudah tidak bisa dilihat. Namun, screnshoot tulisannya sudah beredar di grup-grup, baik WatsApp maupun Grup Facebook.


Untuk lebih jelas, berikut ini tulisan lengkap Ustad yang pernah menuduh Ketum PBNU Kiai Said sebagai ahli bid’ah tersebut.
INFO HANGAT YANG VIRAL DI ‘ALAM GHAIB’ SEJAK TADI MALAM
Terjadi pertempuran hebat antara sejumlah pasukan menyerupai pahlawan melawan gerombolan monyet berseragam bencong yang dianggap “mujtahid” oleh “mufti” tower cileungsi. Antara pasukan mirip pahlawan dan gerombolan monyet berseragam bencong itu terjadi baku hantam dan rebutan “bambu runcing”.
Kabar sementara yang beredar, satu orang diantara pasukan berjubahkan pahlawan dari bumi lancang kuning gugur dijemput makhluk surgawi ke alam keabadian abadi. 16 ekor monyet berseragam bencong dikabarkan tewas mengenaskan – walhamdulillah-. Walaupun banyak diantara media bencong mengabarkan tidak ada korban dan hanya “sekedar luka”. Hakikat berita ini, Allahu a’lam. Apakah fakta ini benar dan real adanya, ataukah settingan menjelang ‘pesta demokrasi’ di tahun depan, ataukah ada kaitannya dengan anjloknya nilai harta berharga di negeri boneka. Wallahu ‘Aliimu A’lam.
Yang pasti, saya hari ini turut senang dan gembira. Wallahi saya sangat senang. Minimal, berkuranglah populasi monyet berseragam bencong di negeri ini yang eksistensinya hanya menjadi malapetaka dan marabahaya untuk kehidupan manusia dan peradaban dunia.
Jika berita bahwa pasukan monyet berseragam bencong tewas ini adalah benar dan real adanya (yakni bukan permainan atau settingan menjelang ‘pesta demokrasi’ di tahun depan), lalu ada orang yang tidak gembira dengan kenyataan ini, maka ketahuilah dia MUNAFIQ! Walaupun tentunya bisa jadi mereka akan lebih brutal dari zaman pemerintahan “raja-berkharisma” sebelum ‘negeri seribu satu sampah’ dipimpin boneka kayu peliharaan si tua bangka. (ARN)

Wakapolri: Operasi di Mako Brimob Berakhir

JAKARTA – Polisi menyatakan operasi pembebasan sandera dan penanganan kerusuhan di tahanan napi terorisme di Mako Brimob sudah berakhir. Hal ini disampaikan oleh Wakapolri Komjen Syafruddin, Kamis (10/5) pagi pukul 07.15 WIB.
Operasi ini dinyatakan berakhir setelah terjadi drama selama 36 jam. Polisi menyatakan, melakukan negosiasi agar 156 napi menyerahkan diri.
Sayangnya, terlanjur jatuh korban dalam peristiwa ini. Lima orang polisi dan satu narapidana meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan.
Saat memberikan keterangan pers di Mako Brimob, Depok, Kamis, Dia menyebutkan sekitar 95 persen narapidana dan tahanan teroris telah menyerahkan diri dan akan dilakukan isolasi dan pemindahan tahanan.
“Sudah tidak ada negosiasi,” katanya.
Wakapolri menyatakan bahwa dia memimpin langsung operasi sejak kerusuhan terjadi pada Selasa (8/5) malam.
Wakapolri akan menyampaikan perkembangan lanjutan penanggulangan dan pemulihan secara berkelanjutan.
Ia juga menegaskan polisi sedang melakukan sterilisasi, dan menyatakan ledakan yang terjadi di Mako Brimob merupakan bentuk sterilisasi pascakerusuhan dan penyanderaan. [ARN]

PBNU Dukung Putusan PTUN Tolak Gugatan HTI

JAKARTA – Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta baru saja memutuskan mengesahkan pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Majelis hakim menganggap Surat Keputusan (SK) Kementerian Hukum dan HAM tentang pembubaran HTI sesuai dengan aturan.
PBNU sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia menganggap putusan PTUN sudah tepat dan benar karena HTI bertentangan dengan Pancasila dan NKRI.
“Itu sudah sesuai dengan fakta yang diuji di pengadilan,” kata Ketua PBNU H Robikin Emhas kepada NU Online di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (7/5).
Kedua, HTI dinilai bukan sebagai organisasi kemasyarakatan, melainkan partai politik. HTI mengusung negara Islam dan tidak mengakui Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia yang telah menjadi kesepakatan bersama para pendiri bangsa.
Ketiga, putusan PTUN bersifat belum final. Menurutnya, HTI masih bisa melakukan proses hukum ke tingkat lebih lanjut, seperti banding.
PBNU meminta masyarakat, baik yang mendukung, maupun yang menolak HTI agar menghargai proses yang sedang berjalan dengan tidak membawa ke luar ranah hukum.
“Ikuti saja proses hukum. Jangan dibawa ke jalanan, jangan dibawa ke mimbar-mimbar keagamaan, jangan di bawa ke mana-mana,” ujar alumnus Pesantren Miftahul Huda Gading Malang yang juga advokat itu.
Pada kesempatan itu, PBNU juga mengimbau kepada warga NU agar meningkatkan persaudaraan dengan merangkul anggota HTI karena NU memiliki prinsip-prinsip persaudaraan, baik ukhuwah Islamiyyah (pesaudaraan sesama muslim), ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia), maupun ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan sesama warga negara Indonesia).
Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) menolak semua gugatan pihak pendukung Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) terhadap putusan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Hal ini membuat SK Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU-30.AH.01.08 tahun 2017 tentang Pencabutan Status Badan Hukum HTI tetap berlaku. [ARN]
Sumber: NU Online.

Sumber Berita : https://arrahmahnews.com/2018/05/07/pbnu-dukung-putusan-ptun-tolak-gugatan-hti/

Re-Post by http://migoberita.blogspot.co.id/ Sabtu/12052018/11.44Wita/Bjm